Home

Sabtu, 02 Januari 2021

Menyalakan Lilin Harapan

 


Bismillah. Doa dan harapan dipanjatkan, mengawali Tahun 2021 ini. Gegap gempita perayaan tahun baru  sangatlah berbeda dengan biasanya, sebelum pandemik. Tentu saja ada pihak yang merasa senang dengan hal ini dan ada pula yang tidak senang. Namun, demi kemaslahatan bersama, alhamdulillah, semuanya bisa menahan diri dan situasi aman terkendali.

Barangkali kita merasa lelah dengan kondisi saat ini, tetapi sebagai hamba yang beriman bukankah kita tidak boleh putus asa? Hanya kepada Allah SWT kita muarakan semuanya, suka duka, segala cerita dalam perjalanan kehidupan ini, termasuk pandemi ini, mari kita berpikir positif kepada-Nya. Tak ada satu pun yang sia-sia dalam setiap penciptaan-Nya, dan tak ada satu pun ketentuan-Nya yang menyulitkan hamba-Nya. Pastilah ada banyak hal yang hendak Dia ajarkan kepada kita, melalui pandemi ini. Jadi, mari kita menggali lebih dalam untuk bisa memaknai dengan penuh kearifan.

Kebersamaan dengan keluarga menjadi salah satu hal yang paling dirasakan, terutama bagi para Ibu yang bekerja di luar rumah. Melalui pandemi ini, dengan adanya ketentuan work from home, sungguh, itu adalah karunia yang luar biasa. Teringat ayat yang diulang-ulang dalam Surat Ar Rahman, "Maka, nikmat Tuhan kami yang manakah yang kamu dustakan?"

Jujur, saya sebagai seorang Ibu dengan empat anak, mengajar juga di sekolah, selama ini mempercayakan pengasuhan anak pada sesosok wanita paruh baya yang sangat perhatian dan sayang kepada semua anak di rumah. Saya sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, dan sangat terbantu dengan kehadirannya di tengah keluarga kami. Namun, sejak pandemi makin meluas dan perumahan kami memberlakukan kebijakan satu pintu, maka pengasuh anak kami pun mulai kesulitan menjangkau tempat kami karena harus memutar. Fisiknya yang sudah cukup tua membuatnya tak segesit mereka yang masih muda. Sementara kami pun tak mesti bisa menjemputnya.

Suatu pagi, dia datang ke rumah dan membawa kabar yang mengagetkan. Anaknya menyuruh istirahat dan mengasuh cucu, sehingga dia minta untuk berhenti bekerja di tempat kami. Jujur, dalam hati kecil smepat bertanya-tanya, apakah ada salah kata atau perbuatan dari kami sehingga dia tidak kerasan? Hampir tiga tahun dia merawat anak bungsu kami, Affan, dan selama ini rasa-rasanya tak ada hal yang memperburuk komunikasi kami. Tapi ya sudahlah, rasanya juga tak bijaksana jika kami harus menahan atau tak mengizinkannya. Sedih, pastinya, terutama si kecil. Namun, seiring berjalannya waktu dan kebersaman kami dalam waktu yang cukup lama, membuat si kecil mudah beradaptasi dan akhirnya kami bisa melewati masa-masa sulit itu.

Semester genap tahun ajaran 2020/2021 insya Allah akan dimulai tanggal 11 Januari nanti. Kami pun harus berbenah dan mempersiapkan skenario A/B. Skenario A, jika sekolah tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat, sementara skenario B, jika sekolah tetap online. Barangkali jika skenario B yang nantinya dilaksanakan, tidak akan terlalu banyak masalah karena kemarin-kemarin toh kami sudah melewatinya. Satu catatan, anak-anak harus lebih aktif dalam mengerjakan tugas, terutama saya juga, untuk lebih disiplin mengirimkan tugas. Nah, jika skenario A yang harus dilaksanakan, barulah muncul beberapa masalah yang harus diantisipasi.

Pertama, bagaimana dengan si kecil? Kepada siapa dia akan kami titipkan? Kepada tetangga, saudara, tempat penitipan anak, ataukah saya bawa bekerja? Atau pengasuh yang kemarin coba saya bujuk dan ajak untuk kembali mengasuh di kecil? Tapi rasanya kurang etis.....

Kedua, bagaimana dengan kedua kakaknya yang bersekolah di SD? Kalau yang kelas 5, sudah bisa mandiri bersepeda ke sekolah, tetapi bagaimana dengan yang masih kelas 1? Rasanya tak elok juga kalau membiarkan dia menghadapi resiko besar di perjalanan menuju sekolah. Nah, kalau menggunakan jasa ojek, amankah, dan adakah Ibu2 tetangga sini yang bersedia antar jemput?

Sepertinya itu dua masalah yang sangat penting untuk dicarikan solusinya jika skenario A yang dijalankan. Kakak yang sekolah di SMA saya anggap sudah mandiri, lagipula lokasi sekolahnya dekat dan bisa dijangkau dengan bersepeda atau pun jalan kaki. 

Meskipun dalam ketidakpastian, tetaplah menyalakan lilin-lilin harapan dalam hidup kita. Jangan biarkan ketidakpastian itu membuat kita tak bisa melihat sisi terang berupa harapan. Nyalakan, dan terangi sekeliling kita. Mari, merajut doa dan harapan, bergandengan tangan, terutama bersama keluarga kita, tetangga, handai taulan, dan seluruh umat manusia, karena sesungguhnya kita semua sama di hadapan-Nya. 



Kamis, 31 Desember 2020

6 Jam Menuju Tahun 2021


Tahun 2020 hampir sampai di titik terujungnya, dan perjalanan Tahun 2021 pun akan segera dimulai. Bismillah, semoga harapan-harapan dan doa-doa yang kami panjatkan diijabah oleh Allah SWT. 

Demi Masa (Raihan_grup Nasyid dari Malaysia)

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian, melainkan yang beriman dan beramal sholeh

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian, melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi, moga kita tak 'kan menyesal

Masa usia kita jangan disiakan, karena ia tak 'kan kembali

Ingat lima perkara, sebelum lima perkara

Sehat sebelum sakit

Muda sebelum tua

Kaya sebelum miskin

Lapang sebelum sempit

Hidup sebelum mati


Masya Allah, syair yang digubah dengan sangat bagus, memberikan pesan yang mendalam tanpa menggurui. Semoga melalui momentum renungan menjelang pergantian tahun ini, kita dapat menjadi orang-orang yang tidak merugi sebagaimana difirmankan dalam QS. Al 'Ashr dan sudah diingatkan pula melalui nasyid yang dipopulerkan oleh Raihan tersebut.

Banyak catatan selama satu tahun di 2020, dan banyak pula doa dan harapan yang dipanjatkan di awal tahun 2021 ini. Tak ada satu pun di antara kita yang tahu apakah dapat melihat mentari di awal tahun nanti? Semuanya rahasia Allah SWT, dan sebagai hamba kita hanya bisa memanjatkan doa-doa dan harapan, sambil tetap optimis menyambut esok hari, kiranya esok lebih baik dari hari ini. Aamiin.

6 Jam bukanlah waktu yang lama, hanya sekejap saja dan perhitungan kalender pun akan berubah. Semoga di tahun 2021 nanti Allah karuniakan keberkahan dalam hidup kita, negara kita, dan juga seluruh muka bumi ini. Kiranya kita semua dapat mengambil hikmah dari pandemi Covid-19 yang kita pun tidak pernah tahu sampai kapan akan berakhir. Wallahu a'lam bishawab.

Hal ini sejatinya menyadarkan kita, betapa pun canggih teknologi yang telah ditemukan umat manusia, namun kuasa-Nya lebih tinggi di atas segalanya. Tak ada lagi kesombongan, baik negara berkembang maupun negara maju, masyarakat miskin atau pun kaya, sejatinya semua tunduk pada ketentuan Allah Yang Maha Kuasa.   


Selasa, 29 Desember 2020

Catatan Akhir Tahun_Memaafkan

 


Kalimat di atas sederhana, namun tidaklah mudah dalam melaksanakannya. Namun, jika merenungkan lebih dalam, tentulah tiada di antara kita yang tidak mau mendapatkan permaafan (pengampunan) dari Allah SWT, terlebih di hari kiamat. Karena imbalannya yang luar biasa itulah, maka perjuangannya pun istimewa. Tak mudah, dan tidak semua dari kita mampu mengerjakannya.

Menjadi penting dalam catatan akhir tahun ini, sebagai sebuah bentuk instrospeksi atau dengan istilah lain muhasabah diri, sikap untuk saling memaafkan. Setiap kita tentunya menginginkan catatan akhir dalam buku kehidupan kita diisi dengan kebaikan, tanpa ada dendam atau pun kebencian yang tersisa. Namun, bagaimana caranya? Sementara sebagai manusia biasa, wajarlah bila ada silap kata atau pun tingkah laku yang menggoreskan luka. Ya, kita perlu waktu untuk bicara dengan hati kecil kita, menimbang seberapa pantas kita membiarkan penyakit-penyakit hati itu menggerogoti keimanan kita.

Bismillah, niatkan untuk mencari ridho-Nya saja, kita ikhlaskan semua duka lara karena ucapan atau pun sikap orang lain yang telah melukai relung hati kita. Kembalikan semua pada Allah SWT, perbanyak istighfar, dan insya Allah debu-debu yang mengerak dalam hati akan sirna. Cukuplah janji Allah bahwa di hari akhir nanti Dia akan memaafkan kesalahan dan dosa kita, menjadi jaminan yang lebih dari cukup untuk kita. Insya Allah, banyak hal positif yang akan mengiringi kehidupan kita setelah sampai pada level ini.

Tak berhenti sampai di situ, di momen penghujung tahun ini, kita pun harus memohon maaf kepada siapa saja yang telah berinteraksi dengan kita, terutama keluarga, tetangga, dan teman sejawat. Sebagai harta yang paling berharga, dunia dan akhirat, maka keluarga harus kita utamakan permaafannya. Setelah itu, tetangga, sebagai orang terdekat kita, tentunya harus dimuliakan dan dimohonkan permaafannya. Nah, rekan sejawat, yang sehari-hari interaksi dengan kita, pastilah banyak peluang untuk terjadinya kesilapan, sehingga kepada mereka pun harus kita mohonkan permaafannya.

Masya Allah, dengan keikhlasan hati untuk memohon maaf dan juga memaafkan, niscaya jalan hidup kita akan terasa lebih tenang dan bahagia. Jika sudah demikian, apalagi yang dicari? 



Senin, 28 Desember 2020

H-3 Jelang Pergantian Tahun


Hari-hari terakhir di penghujung tahun 2020, rasanya lebih tepat jika kita gunakan untuk memuhasabah diri, menghitung ulang apa saja yang telah kita lakukan selama satu tahun ini. Banyak kisah, suka duka, mewarnai perjalanan kita selama tahun yang begitu istimewa, karena di tahun inilah hampir seluruh negara di muka bumi ini dihadapkan pada problematika besar yang entah sampai kapan, bernama pandemic Covid-19. Tak pernah terbayangkan, bahkan belum pernah saya ajarkan dalam materi kebencanaan dalam pembelajaran Geografi di SMA. Selama ini, jujur, saya hanya membelajarkan tentang bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, longsor, tsunami, banjir, dan bencana sosial seperti kemiskinan, gizi buruk, penyakit yang merajela, dsb. 

Covid-19 benar-benar merupakan hal baru, dan melalui pandemic ini kami belajar banyak hal. Tak ada yang menyangka bahwa pandemic ini akan berkepanjangan, hampir setahun lamanya. Hampir semua bidang kehidupan terdampak akibat pandemic ini, namun di sisi lain ada juga yang menjadi lebih kreatif berkat adanya pandemic ini. Setiap hari, kita dihadapkan pada pemberitaan mengenai peningkatan jumlah orang yang terinfeksi virus tersebut, bahkan tak sedikit yang tak tertolong nyawanya. Ratusan jiwa tenaga medis Indonesia, baik itu dookter, perawat, atau pun orang-orang yang berjibaku dalam penanganan Covid-19 ini, telah mendahului kita. Rasa-rasanya, jika ini terjadi pada keluarga saya, tentunya tak mudah untuk meneruskan kehidupan. Masih lekat dalam ingatan, ketika seorang dokter yang dinyatakan positif kemudian menjenguk kedua anaknya tanpa bisa memeluk atau pun sekedar bersalaman, dan ternyata itulah pertemuan terakhir mereka. Istrinya luar biasa tegar, dan pastilah dia seorang Muslimah yang sangat kuat. Teriring doa, semoga semua keluarga yang ditinggalkan oleh para pejuang Covid-19 diberikan kekuatan dan kesabaran, serta diberikan kemudahan untuk meneruskan kehidupannya.

Kembali pada renungan akhir tahun, tak ada yang lebih tepat selain mengevaluasi diri sendiri, apa saja yang telah kita lakukan setahun ini. Bila di awal tahun kita telah membuat perencanaan, maka di akhir tahun ini merupakan saat yang tepat untuk mengevaluasi pencapaian dari rencana-rencana tersebut. Kendala atau hambatan apa saja yang dialami sehingga rencana tersebut tidak terlaksana, sepantasnya menjadi catatan untuk kita perbaiki di tahun yang akan datang. Memang tak ada yang tahu berapa panjang umur kita, tetapi yang pasti, kita bisa merencanakan agar hidup ini lebih bermakna. Tentunya menjadi harapan bagi kita, untuk bisa menjadi sebaik-baik manusia. Semoga!

Minggu, 27 Desember 2020

Mengisi Liburan Akhir Tahun dalam Situasi Pandemic Covid-19

 



Libur telah tiba, Libur telah tiba, Hore! Hore! Hore!

Simpanlah tas dan bukumu, Lupakan keluh kesahmu

Libur telah tiba, Libur telah tiba, Hatiku gembira .

.............

Potongan lagu yang dinyanyikan oleh Tasya tersebut, pasti sangat familiar di telinga kita yang lahir pada tahun 1980-an, karena lagu tersebut merupakan salah satu lagu anak populer pada masa tersebut, dan tentu saja masih digemari oleh anak-anak pada hari ini. Kegembiraan anak sekolah menyambut liburan, yang pastinya sudah terbayang mereka lepas dari kepenatan belajar di sekolah. Terbayang mereka akan melewatkan liburan bersama keluarga, entah mengunjungi saudara, mengunjungi tempat-tempat wisata, atau sekedar makan bersama di luar. 

Namun, liburan akhir tahun 2020 ini terasa berbeda, karena masih dalam masa pandemic Covid-19. Perjalanan wisata mengalami beberapa penyesuaian, di antaranya harus mengantongi hasil tes rapid antigen negatif Covid-19; selama perjalanan mengikuti protokol kesehatan (dicek suhu, menggunakan masker, jaga jarak);  dan beberapa tempat wisata juga menerapkan pembatasan jumlah pengunjung untuk menghindari kerumunan massa.

Begitu pun untuk perjalanan ke luar kota, mengikuti protokol kesehatan sebagaimana perjalanan wisata. Selain itu, untuk kelompok anak-anak terlebih balita dan juga kelompok lansia, yang merupakan kelompok rentan terpapar Covid-19, sangat disarankan untuk tidak bepergian ke luar kota jika memang tidak mendesak. Bahkan, beberapa lembaga pemerintah juga menerapkan sanksi bagi pegawai yang nekat melakukan perjalanan ke luar kota (di luar kedinasan). Cuti bersama akhir tahun pun ditiadakan, sehingga diharapkan mampu menekan jumlah perjalanan ke luar kota.

Beberapa hari yang lalu, umat Nasrani juga merayakan Natal dalam suasana penuh kesederhanaan, karena memang Pemerintah menghimbau agar perayaan Natal tidak mengundang kerumunan massa yang bisa berdampak fatal, yaitu lonjakan kasus Covid-19. Begitu pula perayaan pergantian tahun, sejak dini telah diberikan peringatan untuk tetap menaati protokol kesehatan dan menghindari potensi kerumunan massa. Bahkan, disarankan untuk tidak meniup terompet karena dikhawatirkan menjadi media penularan Covid-19. Mohon maaf, mengenai pembatasan terompet ini tidak bermaksud melukai para pedagang terompet musiman, yang mencari peruntungan setahun sekali pada perayaan Tahun Baru, tetapi lebih semata-mata peningkatan kewaspadaan.

Virus Corona yang sudah bermutasi dan memunculkan banyak varias baru, selayaknya mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah, peneliti, tenaga medis, tetapi yang tidak kalah penting adalah dari masyarakat. Berapa ratus bahkan berapa ribu yang melayang karena virus ini, dan pandemic ini belum menunjukkan tren penurunan. Justru beberapa bulan belakangan menunjukkan peningkatan kasus, baik dipicu karena adanya long week end  maupun (diduga) karena masyarakat sudah lelah dengan pembatasan-pembatasan yang ada. 

Lantas, bagaimana kita menyikapi liburan akhir tahun? Bagi kita yang sudah dewasa, barangkali tidak terlalu menjadi masalah. Namun, bagaimana dengan anak-anak yang memang sangat merindukan saat-saat berlibur bersama keluarga? Baiklah, kita perlu mengomunikasikan dengan bijaksana kepada mereka, tanpa merampas hak-hak mereka untuk menikmati liburan. Berikut ini beberapa alternatif yang bisa kita lakukan untuk mengisi liburan bersama anak-anak dalam situasi pandemic Covid-19:

1. Libatkan anak untuk berbagi tugas menyelesaikan pekerjaan di rumah; misalnya ada yang bertugas menyapu, menyiram tanaman, merapikan mainan adik, bahkan berbelanja sayur atau pun barang-barang lain di warung dekat rumah.

2. Ajak anak untuk memasak bersama, sesekali mencoba resep baru yang dilihat di tayangan TV atau pun di Youtube; anak akan sangat menikmati kebersamaan bersama orang tuanya di dapur, dan setelah itu bersama-sama menyantap hasil kreasi masakannya.

3. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai jadwal kegiatan liburan, sampai awal masuk sekolah, sehingga mereka punya gambaran apa saja yang akan mereka kerjakan. Jangan lupa selipkan jadwal untuk mereka bersenang-senang, misalnya berenang atau pun bersepeda, silaturahim ke rumah saudara yang tidak terlalu jauh (tidak harus menginap, karena situasi sedang pandemic). Selain itu, selipkan juga jadwal untuk membuka buku pelajaran, walaupun hanya bersifat membaca atau pun latihan ringan.

4. Berikan motivasi dan apresiasi kepada anak-anak untuk lebih bersemangat dalam beribadah harian. Bagi yang Muslim, misalnya tumbuhkan kesadaran anak untuk sholat 5 waktu, syukur-syukur ditambah sholat sunnah Dhuha, serta hafalan Quran. Berikan rewards sesuai dengan kesepakatan, insya Allah mereka akan bersemangat dan lupa bahwa sebetulnya mereka sedang melewatkan liburan.

5. Ajarkan anak untuk hemat, dan jika memungkinkan, ajak mereka untuk berbagi kepada sesama. Melalui pembelajaran nyata seperti ini, anak-anak tidak akan protes kenapa mereka tidak berlibur ke luar kota, karena mereka memahami bahwa ketika berbagi kepada sesama, maka mereka mendapatkan kebahagiaan yang tidak terkira.

Nah, itu saja lima tips yang bisa saya bagikan untuk kesempatan kali ini. Selamat mencoba, dan mudah-mudahan liburan akhir tahun ini menjadi istimewa bagi kita semua!  


Sabtu, 26 Desember 2020

Geography Webinar Series (GWS) #01 MGMP Geografi Kabupaten & Kota Bekasi Tahun 2020


Bismillah, semangat lagi menulis di Blog setelah mengikuti pertemuan pertama Geography Webinar Series (GWS) #01 yang diselenggarakan MGMP Geografi SMA Kabupaten dan Kota Bekasi. Salut dan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk seluruh panitia dan peserta, yang berjibaku mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.

Walaupun ada kisah sedih menjelang dihelatnya kegiatan tersebut. Bpk Dr. Casmadi, Kepala Cabang Dinas Wilayah III Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, yang semula dijadwalkan membuka acara dan mengisi materi pada sesi pertama, ternyata berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, 19 Desember 2020. Tak pernah terbayangkan bahwa beliau akan meninggalkan kami secepat ini. Masih lekat dalam ingatanku, beberapa waktu lalu, beliau memberikan wejangan pada saat serah terima Plt. SMAN 3 Babelan dan Plt. SMAN 4 Babelan. Kesederhanaan dan semangat beliau, insya Allah akan kami teladani. 

Panitia GWS #01 yang sempat kebingungan akhirnya mendapat jawaban, setelah ada informasi bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat telah menunjuk Plt. Kepala Cabang Dinas Wilayah III, yaitu Bpk Ir. Herry Pansila. Beliau bukan sosok yang asing bagi kami, karena sebelum (alm) Dr. Casmadi memimpin Cabang Dinas Wilayah III, Bpk Ir. Herry Pansila adalah Kepala Cabang Dinas Wilayah III. Sayangnya, beliau yang telah dijadwalkan membuka acara sekaligus mengisi materi pertama mengenai Kebijakan Pemerintah "Merdeka Belajar", ternyata berhalangan.

Sebagai pengganti, sedianya Kasi Pengawasan Bapak H. Awan Suparwana, S. Pd., M. M. Pd., namun karena beliau dalam perjalanan dan khawatir tidak optimal, maka ditunjuklah Bapak Rojali, S. Pd., M. A., Pengawas SMA di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Alhamdulillah, setelah laporan dari Ketua Panitia Bpk  Anang Suherman, M. Pd., dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua MGMP Geografi SMA Kabupaten Bekasi Bpk Dadan Suarya Praja, M. Pd., kemudian sambutan dari Ketua MGMP Geografi SMA Kota Bekasi Bpk Drs. Sugiyono, M. Pd., maka acara pun dibuka secara resmi oleh Bpk Rojali, S. Pd., M. A. Setelah itu, beliau pun melanjutkan ke sesi materi pertama. Pada sesi diskusi, beberapa peserta cukup antusias untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang jelas dari narasumber.

Selanjutnya, materi mengenai "Menyusun Soal HOTS" bersama Ibu Endang Rahayu, M. Pd. Beliau merupakan Widya Iswara Nasional, penyusun soal tingkat nasional, pernah menjadi Ketua MGMP Geografi Kota Bekasi, Tim Pengembang Kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, penulis buku teks Geografi, dsb. Saking asyiknya menyimak paparan dari beliau, tak terasa jika waktu sudah berakhir. Sesi tanya jawab pun terlaksana dengan baik, beberape peserta antusian bertanya kepada narasumber dan mendapatkan jawaban yang jelas, mencerahkan.

Materi berikutnya yaitu "Menulis Publikasi Ilmiah & Karya Inovatif" yang disampaikan Ibu Anita Damayanti, M. Pd. Beliau merupakan verifikator Tim Penilai Angka Kredit di Cabang Dinas Wilayah III, dan sehari-hari beliau mengajar di SMKN 5 Kota Bekasi. Penyampaian beliau pun tidak kalah menarik, terbukti dari banyaknya pertanyaan dari peserta. 

Mengingat waktu yang sudah beranjak siang, maka sesi coffee break dihilangkan, Tapi, peserta tetap diperkenankan untuk minum kopi/teh dan menikmati cemilan, yang penting tidak mengganggu jalannya acara, misalnya dengan menonaktifkan speaker dan video. Nah, dua materi terakhir ini yang sangat milenial, yaitu "Menjadi Guru Blogger" yang disampaikan Bpk Agnaz Setiawan, S. Pd., dan "Menjadi Guru Youtuber" yang disampaikan Bpk Ahmad Habibie, S. Pd. Keduanya mampu menginspirasi dan memotivasi peserta, nyatanya saya pun bersemangat untuk kembali menghidupkan blog ini, walaupun dengan menulis postingan yang sederhana. Yup, seperti penjelasan Pak Agnaz, menulis blog harus rajin dan bisa dimulai dengan menulis hal yang dialami pada hari tersebut.

Mengenai Youtube, jujur, selama ini saya hanya menjadi penonton konten-konten di Youtube. Namun, setelah mengikuti kegiatan GWS #01 ini, menyimak penjelasan Pak Habib, walaupun agak takut juga melihat perlengkapan Production House yang dimilikinya, tapi saya harus berusaha! Terlebih, ada kewajiban dari BKD Jawa Barat bagi setiap ASN di lingkungan Pemprov Jawa Barat untuk mengpload video profil ke Youtube dan menautkan linknya ke TRK. Ternyata tak mudah untuk bicara di depan kamera! Hi hi, jujur, beberapa kali pengambilan video baru agak percaya diri untuk upload ke Youtube, itu pun masih diprivate. Melihat video teman-teman yang sudah bagus, apalagi konten-konten pembelajaran yang begitu menarik, insya Allah saya juga akan membuatnya!

Itu saja yang bisa dibagikan kali ini, insya Allah pada postingan yang akan datang akan dilanjutkan kembali cerita mengenai GWS #01 ini. Sampai jumpa! 




Rabu, 18 Maret 2020

Pengembangan Tourism Education Melalui Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara Jawa Tengah












BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Penataan ruang untuk kawasan wisata terkadang tidak diimbangi dengan pemanfaatan ruang tersebut secara efektif. Sebagian besar wisatawan menerjemahkan kegiatan wisata sekedar kegiatan bersenang-senang, dengan menggeneralisir apa pun objek dan fungsi kawasan wisata tersebut. Padahal, setiap objek dan kawasan wisata memiliki karakteristik dan peruntukan tersendiri. Alangkah bijaknya apabila wisatawan memahami hal ini, sehingga pada akhirnya mampu menggunakan kawasan wisata sesuai dengan karakteristik objek dan peruntukannya.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mengenai hal ini adalah melalui dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran Geografi baik di tingkat pendidikan dasar, menengah,  maupun pendidikan tinggi. Sebagai contoh, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sesekali dilaksanakan dengan cara studi lapangan dan di sana siswa dilatih kemampuannya untuk bisa mengidentifikasi dan menganalisis objek yang diamatinya. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara kontinu, perlahan tapi pasti akan terjadi perubahan cara pandang dan sikap masyarakat mengenai wisata dan objek wisata itu sendiri. Salah satunya, wisata diterjemahkan sebagai kegiatan menarik sekaligus menantang untuk mendapatkan suatu ilmu dan pengalaman baru.

Kabupaten Jepara memiliki potensi wisata beragam dan memungkinkan untuk dikembangkan khususnya terkait dengan pembelajaran Geografi mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Hal ini didukung oleh kondisi demografis berupa struktur penduduk muda, sehingga terbuka peluang untuk menanamkan pemahaman dan kesadaran pada generasi muda.
Namun, pada kenyataannya di lapangan, pembelajaran Geografi belum sepenuhnya memiliki relevansi dengan upaya tersebut. Tidak sedikit di antara para pendidik yang mengesampingkan kegiatan sudi lapangan, dengan berbagai faktor penyebab antara lain: alokasi waktu dan pembagian materi dalam kurikulum yang tidak proporsional, cakupan materi luas dianggap sulit oleh siswa, persiapan ujian, dan pembiayaan.

Hal inilah yang melatarbelakangi penyusunan makalah dengan judul “Pengembangan Tourism Education Melalui Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah”. Permasalahan yang dikaji dalam makalah ini nampaknya juga dijumpai di wilayah lain, sehingga diharapkan makalah ini dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi teman-teman guru khususnya yang mengajar mata pelajaran Geografi di tingkat pendidikan menengah.

1.2  Rumusan Masalah
Masalah dalam makalah ini dibatasi dengan rumusan sebagai berikut:
1.      Apa saja potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Jepara?
2.      Bagaimana penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara?
3.      Bagaimana relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara?
4.      Apa saja langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara?







1.3  Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Jepara.
2.      Mengetahui penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara.
3.      Mengetahui relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara.
4.      Mengetahui langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara.

1.4  Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penyusunan makalah ini antara lain:
1.      Meningkatnya keterampilan menulis ilmiah, khususnya sehubungan dengan aplikasi disiplin ilmu Geografi dalam konteks penataan ruang di suatu wilayah.
2.      Bertambahnya wawasan dan pengenalan kondisi serta potensi daerah, sehingga dapat dikorelasikan dengan pembelajaran Geografi SMA.
3.      Terjalinnya kerja sama dengan berbagai pihak terutama ketika proses pengumpulan data, dan diharapkan pada tahap selanjutnya akan mempercepat terwujudnya sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA.

1.5  Sistimatika Penulisan
Makalah ini ditulis dengan sistimatika sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
1.4  Manfaat
1.5  Sistimatika Penulisan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Definisi Ruang, Wilayah, Kawasan, dan Penataan Ruang
2.2     Tujuan dan Aspek yang Diperhatikan dalam Penataan Ruang
2.3     Pemanfaatan Ruang Sebagai Kawasan Wisata
2.4     Korelasi Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Geografi

BAB 3 METODE PENULISAN
3.1  Pendekatan Penulisan
3.2  Metode Pengumpulan Data
3.3  Sasaran Penulisan
3.4  Tahapan Penulisan

BAB 4 PEMBAHASAN
4.1  Potensi Wisata di Kabupaten Jepara
4.2  Penataan Ruang Kawasan Wisata di Kabupaten Jepara
4.3  Relevansi Tourism Education dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara
4.4  Langkah-Langkah Strategis untuk Mewujudkan Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara

BAB 5 PENUTUP
5.1 Simpulan
5.2 Saran

  
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Definisi Ruang, Wilayah, Kawasan, dan Penataan Ruang
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mendefiniskan ruang, wilayah, kawasan, dan penataan ruang sebagai berikut:
1.      Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, laut, dan udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat di mana manusia dan makhluk hidup lain melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
2.      Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistimnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
3.      Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
4.      Penataan ruang adalah suatu sistim proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

2.2     Tujuan dan Aspek yang Diperhatikan dalam Penataan Ruang
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 mengamanatkan bahwa penataan ruang bertujuan untuk:
1.      Mewujudkan keharmonisan antara lingkungan alam dan buatan.
2.      Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia.
3.      Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
  
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 juga mengamanatkan bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan:
1.      Kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana.
2.      Potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan.
3.      Geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.

2.3     Pemanfaatan Ruang sebagai Kawasan Wisata
Salah satu bentuk pemanfaatn ruang adalah sebagai kawasan wisata, dimana wisata (tourism) itu diterjemahkan sebagai berikut:
1.      Aktivitas sementara waktu, dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan menikmati perjalanan, pertamasyaan, rekreasi, atau memenuhi keinginan yang beragam. (Yoeti: 1990 dalam Saptorini, 2006)
2.      Kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. (Soekadijo: 2000 dalam Saptorini, 2006)
3.      Aktivitas bepergian bersama untuk memperluas pengetahuan dan mendapat kesenangan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2002 dalam Saptorini, 2006)
4.      Aktivitas yang dikenali dari karakteristiknya antara lain: bersifat sementara, bukan untuk mencari nafkah melainkan menikmati perjalanan, dan memperoleh pelayanan wisata. (Saptorini, 2006)     


2.4     Korelasi Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Geografi         
Penataan ruang kawasan wisata memiliki korelasi yang erat dengan Geografi. Soemarwoto (1999) mengemukakan bahwa pariwisata merupakan industri yang kondisinya sangat tergantung pada kualitas lingkungan. Oleh karena itu, dalam pengembangan dan penataannya harus memperhatikan beberapa faktor antara lain: daya dukung lingkungan, keanekaragaman, keindahan alam, vandalisme, pencemaran, kerusakan hutan, dampak sosial budaya, dan zonasi.
Hal tersebut sejalan dengan UU No. 26 Thn. 2007 yang menegaskan bahwa penyelenggaraan penataan ruang harus memperhatikan kondisi fisik wilayah, potensi sumberdaya, dan berbasis geo (gestrategi, geopolitik, geoekonomi).

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam kajian Geografi adalah pendekatan keruangan (spatial), dimana pendekatan ini sangat menekankan pada aspek keruangan atau tata ruang wilayah. Dengan demikian, menjadi jelaskah korelasi antara penataan ruang kawasan wisata dengan Geografi.

  
BAB 3
METODE PENULISAN

3.1  Pendekatan Penulisan
Makalah ini ditulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang didasarkan pada ketiga pendekatan Geografi yaitu pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah.

3.2  Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah data primer dan sekunder, yang dikumpulkan melalui serangkaian metode sebagai berikut:
1.      Pengamatan di beberapa lokasi objek atau kawasan wisata di Jepara antara lain: Sentra  Tenun Troso, Sentra Meubel Ukir, Sentra Kerajinan Monel, Pantai Bandengan, Pantai Kartini, Pantai Pungkruk, Bumi Perkemahan Pakis Aji, dan Pulau Panjang.
2.      Wawancara dengan masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
3.      Studi pustaka dan dokumentasi baik dari sekolah maupun pemerintah daerah setempat dalam hal ini Bappeda dan BPS Kabupaten Jepara.

3.3  Sasaran Penulisan
Sasaran penulisan makalah ini antara lain:
1.      Civitas akademika SMA Negeri 1 Mayong, Jepara.
2.      Guru Geografi (khususnya SMA) di Kabupaten Jepara.
3.      Jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara, dalam hal ini yang terkait dengan tourism education melalui pembelajaran Geografi SMA, yaitu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
4.      Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

3.4  Tahapan Penulisan
Berikut ini merupakan skema tahapan penulisan dalam penyusunan makalah ini, yang dimulai dari tahapan perumusan masalah dan tujuan, metode penulisan, metode pengumpulan data, analisis, sampai tahapan simpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah yang diajukan.





  

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1  Potensi dan Permasalahan Wisata di Kabupaten Jepara
Kabupaten Jepara memiliki potensi dan permasalahan wisata yang beragam, antara lain:
1.      Wisata Alam
Potensi wisata alam di Jepara cukup variatif, meliputi: air terjun Songgolangit, Desa Wisata Tempur, Wanawisata Desa Batealit, Wanawisata Desa Bategede, Wanawisata Desa Tanjung, Wanawisata Desa Sumanding, Wanawisata Desa Damarwulan, Goa Tritip, dan Bumi Perkemahan Pakis Aji.
 


 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata alam di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Pengelolaan yang kurang profesional, baik oleh dinas terkait maupun masyarakat setempat .
(2). Kurang memadainya infrastruktur berupa akses jalan, toilet umum, mushola, gardu pandang, homestay, serta kesiapan masyarakat setempat untuk berperan aktif sebagai pelaku wisata.
(3). Kurang efektifnya promosi wisata.

2.      Wisata Bahari/Pantai
Potensi wisata bahari/pantai di Kabupaten Jepara cukup bervariatif juga, antara lain: Pantai Bandengan/Tirta Samudra, Pantai Kartini, Pulau Panjang, Pantai Pailus, Pantai Pungkruk, Waterboom Alamoya, Pantai Bondo, dan Pantai Banyutowo. Sebagian besar pantai tersebut memiliki pasir putih, dan tersedia
 



 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata bahari/pantai di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi untuk menuju beberapa lokasi wisata bahari/pantai.
(2). Bercampurnya fungsi ruang wisata dengan permukiman dan tidak teraturnya pertumbuhan bangunan dalam zona wisata.
(3). Kurangnya papan penunjuk ke lokasi wisata, rusaknya bangunan-bangunan tempat istirahat, sebaran pedagang yang tidak tertata dengan baik, ketidakjelasan area parkir, kurangnya pencitraan keunggulan daerah setempat, serta kurangnya lampu penerangan di lokasi wisata.
(4). Kurangnya kesadaran masyarakat dan wisatawan dalam hal menjaga kebersihan di lokasi wisata.  

3.      Wisata Religi
Potensi wisata religi di Kabupaten Jepara antara lain: Makam dan Masjid Mantingan, serta Klenteng Hiang Thiang Siang Tee.
 









Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata religi  di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Kurangnya promosi dan terbatasnya papan penunjuk.
(2). Kurangnya kesadaran wisatawan untuk menjaga kebersihan di lokasi wisata.


4.      Wisata Sejarah
Potensi wisata sejarah di Kabupaten Jepara antara lain: Benteng Portugis, Benteng VOC, Plasenta/Ari-ari Kartini, Pendopo Kabupaten, dan Museum R.A. Kartini.
 


 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata sejarah  di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Buruknya kualitas jaringan jalan menuju beberapa lokasi wisata.
(2). Ketidakjelasan papan penunjuk lokasi wisata.
(3). Kurang intensifnya promosi wisata.

5.      Wisata Budaya
Potensi wisata budaya di Kabupaten Jepara juga bervariatif, antara lain: Perang Obor, Gong Senen, Lomban/Pekan Syawalan, Pesta Baratan, Tradisi Jembul Tulakan, Sonder Kalinyamat, dan Prosesi Hari Jadi Kabupaten Jepara.



 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata budaya di Kabupaten Jepara adalah kurang intensifnya promosi wisata.

6.      Wisata Sentra Kerajinan
Potensi wisata sentra kerajinan di Kabupaten Jepara cukup bervariatif, antara lain: sentra kerajinan rotan, patung, ukir, furniture/meuble, relief, tenun Troso, gerabah/keramik dan genteng, konveksi, monel, dan pembuatan roti.
 



  Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata sentra kerajinan di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Kurangnya aksesibilitas/jaringan jalan menuju beberapa lokasi wisata.
(2). Kurang intensif dan efektifnya media promosi.
(3). Kurangnya pelatihan untuk para pengrajin/pengusaha.

7.      Wisata Agro dan Kuliner
Potensi wisata agro dan kuliner di Kabupaten Jepara antara lain: kluster buah-buahan (durian, jeruk siam, belimbing), peternakan kambing peranakan Etawa, agroteknopark/kampung teknologi, dan wisata kuliner Pantai Pungkruk.
 



Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata agro dan kuliner di Kabupaten Jepara adalah minimnya aspek pengembangan serta kurang seriusnya penanganan dari instansi terkait.
  

4.2  Penataan Ruang Kawasan Wisata di Kabupaten Jepara
Dalam kajian potensi serta prospek pengembangan wilayah, Bappeda Kabupaten Jepara (RIPP: 2009) merumuskan bahwa arahan pengembangan sektor pariwisata meliputi tiga aspek: promosi ke luar daerah, perbaikan dan penambahan akomodasi wisata, serta peningkatan hubungan kerja sama baik pemerintah, masyarakat, maupun antar pelaku wisata.  

Arahan pengembangan tersebut sejalan dengan fungsi Jepara dalam penataan ruang Jawa Tengah, dimana Jepara menempati dua kawasan strategis:
1.      Kawasan Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati)
Kota-kota utama di kawasan ini adalah Kota Kudus, Pati, dan Jepara. Ada pun kota-kota pendukunganya adalah Kota Jati, Juwana, Tayu, dan Pecangaan. Kawasan ini memiliki potensi alam dan budaya yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan, salah satunya terkait dengan tourism education dan pembelajaran Geografi.
2.      Kawasan Kepulauan Karimunjawa
Kawasan ini memiliki fungsi utama sebagai kawasan konservasi laut. Selain itu, dikembangkan pula aktivitas wisata, perikanan, perekonomian, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
           
Pengelolaan kawasan wisata dimaksudkan untuk memanfaatkan potensi alam dan budaya dengan memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya,  adat- istiadat, mutu, dan keindahan alam, untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Wujud kawasan wisata sangat beragam, antara lain: kawasan perindustrian, pertanian, suaka alam dan hutan wisata,  suaka alam laut dan perairan lainnya, taman nasional, taman hutan raya, serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
  
Kawasan wisata di Kabupaten Jepara ditentukan dengan didasarkan pada berbagai kriteria antara lain:
1.      Mempunyai keindahan alam dan panorama.
2.      Kebudayaan masyarakatnya bernilai tinggi dan diminati wisatawan.
3.      Adanya bangunan peninggalan budaya atau bernilai sejarah tinggi.
4.      Memiliki radius sekitar 2 km dari lokasi wisata, sedangkan untuk kawasan penyangga memiliki radiius 5 km dari lokasi wisata.

Oleh karena itu, dalam pengembangan wisata di Kabupaten Jepara, dilakukanlah pengaturan berupa:
1.      Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
2.      Perlindungan terhadap situs peninggalan budaya atau sejarah.
3.      Pembatasan pendirian bangunan di kawasan wisata. (hanya untuk menunjang kegiatan wisata).

Beberapa rencana pengembangan yang telah disusun dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (Bappeda: 2009) meliputi:
1.  Pengembangan perjalanan wisata.
2.  Pengembangan wisata pedesaan.
3.  Pengembangan pasar seminar dan konferensi.
4.  Pengembangan event tertentu sebagai atraksi wisata.
5.  Peningkatan penduduk pemasaran objek wisata.
  
Pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Jepara diarahkan sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 4.1
Pengembangan Kawasan Wisata di Kabupaten Jepara

No.
Kawasan
Kriteria

Lokasi Wisata

1.
Unggulan
Memiliki objek wisata langka,  daya tarik kuat, tidak dijumpai di daerah lain, sudah teruji di pasar domestik dan macanegara, serta berdampak cepat dan menyeluruh terhadap pembangunan. 

1.      TN. Karimunjawa
2.      Pulau Panjang
3.      Pantai Kartini.
2.
Andalan
Cukup potensial untuk dikembangkan dan mampu menarik wisatawan.

1.      Pantai Bandengan
2.      Benteng Portugis
3.      Makam dan Masjid Mantingan
4.      Museum Kartini.
3.
Potensial Pengembangan
Memiliki potensi pengembangan tetapi belum dikembangkan karena keterbatasan aksesibilitas dan sarana pendukung.
1.      Monumen ari-ari Kartini
2.      Sreni Indah
3.      Sonder Kalinyamatan
4.      Air Terjun Songgolangit
5.      Goa Tritip
6.      Ekowisata Desa Damarwulan
7.      Agrowisata Desa Tempur
8.      Wanawisata Desa Semanding
9.      Wanawisata Desa Batealit
10.  Wanawisata Desa Bategede
11.  Wanawisata Desa Tanjung

Sumber: Draft RTRW 2009-2029 (Bappeda Kab. Jepara)

Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih sebagian besar kawasan wisata di Kabupaten Jepara masuk kategori kawasan potensial pengembangan. Hal ini memberikan peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkannya sehingga menjadi wisata andalan, bahkan unggulan.
Oleh karena itu, dilakukanlah penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara dengan menggunakan rencana perwilayahan pengembangan kawasan wisata. Kriteria pengembangan yang digunakan antara lain: jenis dan karakter objek serta daya tarik wisata, kesamaan arah dan cara pencapaian, kedekatan dari pusat-pusat pelayanan, serta kedudukan sebaran objek dan daya tarik wisata secara geografis.

Rencana pengembangan tata ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara dibagi dalam dua tingkat perwilayahan, yaitu:
  1. Kawasan Pengembangan Pariwisata (KPP)
Merupakan wilayah struktur pengembangan yang merangkum beberapa objek atau kawasan wisata dalam satu kesatuan pengembangan. KPP didasarkan pada pertimbangan kesamaan tipologi objek dan jenis daya tarik wisata, serta pertimbangan lokasi atau sebarannya secara geografis. Kabupaten Jepara memiliki empat KPP, yaitu:
(1).  KPP A-Kepulauan Karimunjawa
(2).  KPP B-Pesisir
(3).  KPP C-Daratan Tengah
(4).  KPP D-Pegunungan.
  1. Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP)
Merangkum beberapa KPP, dimana penentuannya didasarkan pada pertimbangan konsep struktur Tata Ruang dan pertimbangan kesamaan tipologi KPP.

Perwilayahan tata ruang pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Jepara berikut produk yang ditawarkan, ditampilkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2

KPP
Cakupan Wilayah
ODTW
Pusat Pelayanan
Basis Pengembangan Produk
KPP A
Karimunjawa
Kec. Karimunjawa
1.       Wisata Darat Karimunjawa
2.       Wisata Bahari Karimunjawa
3.       Makam Kunci
4.       Makam Nyamplungan
5.       Sumur Wali
6.       Biota Air Bawah Laut

Kota Karimunjawa
Pengembangan produk wisata berbasis pesisir/pantai/bahari, wisata budaya, dan wisata pendidikan



KPP B
Pesisir


1.       Kec. Jepara
2.       Kec. Tahunan
3.       Kec. Mlonggo
4.       Kec. Kembang
5.       Kec. Donorojo

1.       Pantai Kartini
2.       Pantai Bandengan
       (Tirta Samudra)
3.       Pantai Pailus
4.       Pantai Pungkruk
5.       Pantai Banyutowo
6.       Benteng Portugis
7.       Lomban/Pekan Syawalan
8.       Perang Obor

Kecamatan Jepara
Kecamatan Donorojo
Pengembangan produk wisata pesisir/pantai/bahari, wisata budaya, dan wisata sejarah
KPP C
Daratan Tengah
1.       Kec. Welahan
2.       Kec. Tahunan
3.       Kec. Jepara
4.       Kec. Mayong
5.       Kec. Kalinyamatan
6.       Kec. Donorojo
7.       Kec. Pecangaan
8.       Kec. Pakis Aji
1.       Makam & Masjid Mantingan
2.       Klenteng Hian Thiang Tse
3.       Plasenta Ari-ari Kartini
4.       Pendopo Kabupaten
5.       Museum Kartini
6.       Benteng VOC
7.       Gong Senen
8.       Pesta Baratan
9.       Tradisi Jembul Tulakan
10.   Sonder Kalinyamat
11.   Proses Hari Jadi Kota Jepara
12.   Sentra Kerajinan Rotan
13.   Sentra Kerajinan Patung/Ukir
14.   Sentra Kerajinan Mebel
15.   Sentra Kerajinan Kain Troso
16.   Sentra Kerajinan Gerabah/ Keramik
17.   Sentra Kerajinan Konveksi
18.   Sentra Kerajinan Roti
19.   Sentra Kerajinan Monel
20.   Kluster Buah Belimbing
21.   Kluster Buah Durian
22.   Agroteknopark

Kecamatan Jepara
Kecamatan Tahunan
Pengembangan produk wisata berbasis wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, dan sentra kerajinan
KPP D
Pegunungan
1.       Kecamatan Kembang
2.       Kecamatan Keling
3.       Kecamatan Nalumsari
4.       Kecamatan Batealit
5.       Kecamatan Pakis Aji
6.       Kecamatan Donorojo
7.       Kecamatan Nalumsari

1.       Air Terjun Songgolangit
2.       Desa Wisata Tempur
3.       Wana Wisata Desa Bategede
4.       Wana Wisata Desa Tanjung
5.       Wana Wisata Desa Sumanding
6.       Wana Wisata Desa Damar Wulan
7.       Gua Tritip
8.       Kluster Buah Jeruk Siam
9.       Bumi Perkemahan
10.   Kluster Kambing PE
Kecamatan Pakis Aji
Pengembangan produk wisata berbasis wisata alam, wisata kuliner berupa kluster buah-buahan
Sumber: Bappeda Kabupaten Jepara (RIPP: 2009)


Berdasarkan tabel 4.2 tersebut, diketahui bahwa keempat KPP di Kabupaten Jepara memiliki karakteristik khas dan masing-masing menawarkan objek wisata yang cukup beragam. Hal ini memberikan peluang bagi para wisatawan untuk memilih lokasi yang sesuai dengan minat atau pun tujuannya berwisata.

Namun, ada beberapa KPP yang pengelolaannya belum optimal meskipun sudah tersedia fasilitas penunjang wisata di Kabupaten Jepara antara lain:
1.      Fasilitas akomodasi berupa resort, camping ground, dan hotel.
2.      Fasilitas rumah makan lokal dan internasional.
3.      Fasilitas informasi berupa Tourism Information Centre (TIC) dan papan informasi wisata.
4.      Fasilitas telekomunikasi berupa wartel dan warnet.
5.      Fasilitas penjualan cinderamata berupa art shop dan kios cinderamata.
6.      Fasilitas jasa pengatur perjalanan wisata berupa biro perjalanan.
7.      Fasilitas penukaran uang (money changer).
8.      Fasilitas petunjuk penandaan berupa main gate dan penunjuk arah.

4.3  Relevansi Tourism Education dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara
Ada relevansi yang sangat erat antara tourism education dengan pembelajaran Geografi, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Diharapkan, dengan adanya kegiatan tourism education ini para siswa mendapatkan pengalaman belajar nyata di lapangan sehingga pemahaman tentang keilmuan yang diperolehnya di sekolah menjadi lebih komprehensif. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran contextual teaching learning, dimana siswa diajak memahami sesuatu dengan menghubungkan apa-apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, siswa memiliki keterampilan mengaplikasikan ilmu yang dipelajari dengan dunia nyata.

Gunawan (2008) menyatakan bahwa guru Geografi memiliki peranan dalam membentuk karakter bangsa Indonesia, sehingga bangsa ini mengetahui keseluruhan wilayahnya dengan baik, termasuk permasalahan yang sedang dan akan dihadapi karena kondisi sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, guru Geografi harus memiliki kemampuan untuk:
1.      Menanamkan batas-batas wilayah geografis Indonesia.
2.      Mendeskripsikan kondisi dan potensi wilayah geografis Indonesia secara makro.
3.      Menggambarkan informasi geografis secara benar dan mampu menjelaskannya pada disiplin ilmu lain secara benar.
4.      Mampu menyajikan model-model pembelajaran kontekstual yang mudah diterima oleh geograf muda maupun disiplin ilmu yang memerlukan.
5.      Mampu bersikap dinamik, adaptif, dan sistemik dalam menghadapi keanekaragaman masyarakat Indonesia. 
  
Untuk mewujudkan semua itu, masih menurut Gunawan, perlu dilakukan penyeragaman guru Geografidi Indonesia, dengan cara:
1.      Guru (dan juga dosen) Geografi harus sepaham dan seragam dalam pembelajaran Geografi.
2.      Objek kajian utama berupa geosfer harus menjadi panduan sesuai dengan tingkat atau level studi Geografi.
3.      Penggunaan pendekatan spasial, ekologis-lingkungan, dan kompleks wilayah dalam mengkaji fenomena geosfer.
4.      Penggunaan pendukung pembelajaran berupa peta umum atau Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta tematik, foto udaradan citra satelit, serta instrumentasi di laboratorium dan lapangan.
5.      Penggunaan teknologi Sistem Infomasi Geografis (SIG) sebagai pendukung pengolahan data.
6.      Pelaksanaan observasi atau kunjungan lapangan secara langsung, baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah,maupun pendidikan tinggi.
7.      Peningkatan keterampilan dan kemampuan (skill and ability) secara terus-menerus (continuous improvement).
8.      Secara periodik, guru dan dosen Geografi melakukan studi banding (bechmarking) untuk perbaikan diri (self imporovement) secara mandiri (internally driven).

Sementara itu, Rijanta (2008) mengemukakan sepuluh kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang geograf agar layak menyandang predikat Geograf Profesional. Kesepuluh kemampuan itu meliputi kemampuan dalam hal:
1.      Berpikir secara spasial.
2.      Membaca dan memahami lansekap.
3.      Menilai implikasi (spasial) dari distribusi beragam karakteristik lansekap.
4.      Memikirkan lebih dari satu macam distribusi (spasial) pada saat yang sama, sekaligus memahami setiap kemungkinan keterkaitan antar objek yang sedang dipelajari.
5.      Merubah skala pemikiran sesuai kebutuhan untuk berbagai fenomena atau masalah yang sedang dianalisis.
6.      Menambahkan dimensi waktu dalam analisis jika diperlukan.
7.      Menempatkan fenomena yang sedang diamati dalam suatu kerangka model atau sistem.
8.      Memahami dan berpikir dengan mengaitka sistem fisik dan sosial (manusia) dalam suatu lansekap.
9.      Menggunakan teknik-teknik seperti:
(1). Memperoleh informasi melalui kerja lapangan, analisis peta atau citra yang bersumber inderaja; dengan menekankan distribusi dan hubungan keruangan.
(2). Mengelola seperangkat data yang berukuran besar atau tidak lengkap, baik bersifat spasial maupun berbasis waktu (historis) dengan metode kuantitatif dan menggunakan komputer.
(3). Melakukan penelusuran dan memanfaatkan sumber-sumber literatur termasuk arsip dan catatan-catatan historis.
(4). Memonitor berbagai komponen lansekap dan mampu menyajikannya untuk keperluan analisis lebih lanjut.
(5). Menyajikan informasi dengan jelas, utamanya dalam bentuk peta.
(6). Memanfaatkan kemajuan teknologi seperti SIG untuk membantu memperoleh pandangan yang menyeluruh (holistic) tentang sesuatu masalah.
10.  Mampu menyatakan dengan baik penemuan-penemuannya dan  menghubungkannya dengan berbagai disiplin ilmu terkait.


UNWIM: 1992 dalam Rijanta (2008) mengemukakan beberapa upaya untuk mencetak geograf muda yang handal atau profesional, antara lain:
1.      Pembelajaran lebih berpusat pada siswa (student centered learning),yang dapat diterapkan dengan beberapa uapaya berikut:
(1). Kontak yang intensif antara siswa dengan guru.
(2). Kerja sama antar siswa.
(3). Pembelajaran aktif.
(4). Umpan balik yang memadai.
(5). Perhatian pada waktu.
(6). Adanya komunikasi untukmeraih harapan ideal.
(7). Penghargaan terhadap keragaman pengalaman belajar.
(8). Evaluasi diri.
(9). Identifikasi atau perumusan tujuan yang jelas.
(10). Praktik atau latihan yang menguntungkan dari segi pendidikan.
2.      Pembelajaran tidak sekedar menyampaikan fakta yang diketahui.
3.      Emansipasi dalam pembelajaran.
4.      Kurikulum dijadikan sebagai target minimum, bukan sebagai pembatas maksimum.

Relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA dapat dilihat dengan mengkaji potensi pengembangan wisata di suatu wilayah dengan kurikulum Geografi SMA. Dalam makalah ini, penyusun membatasi pada ruang Kabupaten Jepara. Namun demikian, ide dalam makalah ini dapat diaplikasikan di wilayah lain untuk pembelajaran mata pelajaran yang sama. Bahkan, dapat juga dikembangkan untuk mata pelajaran lainnya, tentu saja setelah disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran tersebut.

Dalam pengembangan silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dirumuskan adanya standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendaknya dimiliki oleh setiap siswa yang belajar Geografi di tingkat SMA.

Tabel 4.3
Kurikulum Pembelajaran Geografi SMA

NO.
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
1.
Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek Geografi.
Menjelaskan konsep Geografi.
Konsep Geografi:
1.      Pengertian Geografi
2.      Konsep sepuluh esensial Geografi

Menjelaskan pendekatan Geografi.
Pendekatan Geografi:
1.      Keruangan (spatial approach)
2.      Kewilayahan
3.      Ekologi (ecological approach)

Menjelaskan prinsip Geografi.
Prinsip Geografi:
1.      Penyebaran
2.      Interelasi
3.      Deskripsi
4.      Korologi

Mendeskripsikan aspek, ruang lingkup, objek studi, dan struktur Geografi.
1.      Aspek Geografi (fisik dan sosial)
2.      Ruang Lingkup (Geosfer)
3.      Objek Studi (formal dan material)
4.      Struktur Geografi (kedudukan dan cabang Geografi)

2.
Memahami sejarah pembentukan Bumi
Mendeskripsikan Tata Surya dan Jagad Raya
Tata Surya dan Jagad Raya:
1.      Hipotesis terjadinya Jagad Raya dan Tata Surya
2.      Galaksi dan keluarga Tata Surya
Menjelaskan sejarah pembentukan Bumi
Pembentukan dan Perkembangan Bumi:
1.      Proses pembentukan dan perkembangan Bumi
2.      Karakteristik perlapisan Bumi
3.      Teori lempeng tektonik dan jalur vulkanik-seismik.

3.
Menganalisis unsur-unsur geosfer
Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Litosfer:
1.      Struktur lapisan kulit Bumi
2.      Tenaga endogen
3.      Tenaga eksogen
Pedosfer:
1.      Proses pembentukan tanah
2.      Jenis dan ciri tanah di Indonesia
3.      Erosi dan kerusakan tanah di Indonesia
4.      Penyebab dan kerusakan tanah

Menganalisis atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi
Atmosfer:
1.      Ciri-ciri lapisan atmosfer
2.      Unsur-unsur cuaca
3.      Persebaran hujan di Indonesia
4.      Berbagai klasifikasi iklim
5.      Pemanasan global dan fenomena El Nino, La Nina

Menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi
Hidrosfer:
1.      Siklus hidrologi
2.      Perairan darat
(1). Air tanah
(2). Daerah Aliran Sungai
(3). Danau
(4). Rawa
3.      Perairan laut
(1). Zona pesisir dan laut
(2). Klasifikasi laut
(3). Morfologi laut
(4). Gerakan air laut
(5). Kualitas airlaut

4.
Menganalisis fenomena Biosfer dan Antroposfer
Menjelaskan pengertian fenomena Biosfer
1.      Pengertian fenomena biosfer
2.      Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan flora dan fauna

Menganalisis sebaran hewan dan tumbuhan
1.      Sebaran hewan dan tumbuhan di permukaan bumi
2.      Dampak kerusakan hewan dan tumbuhan terhadap kehidupan

Menjelaskan pengertian fenomena Antroposfer
1.      Kuantitas penduduk
(1). Komposisi penduduk
(2). Kepadatan penduduk
(3). Pertumbuhan penduduk
(4). Proyeksi penduduk
(5). Angka kelahiran
(6). Angka kematian
2.      Kualitas penduduk
(1). Tingkat pendidikan
(2). Tingkat ekonomi
(3). Tingkat kesehatan

Menganalisis aspek kependudukan
1.      Natalitas
2.      Mortalitas
3.      Migrasi

5.
Memahami sumberdaya alam
Menjelaskan pengertian sumberdaya alam
Pengertian sumberdaya alam
Mengidentifikasi jenis-jenis sumberdaya alam
1.      Jenis sumberdaya alam
2.      Pengelolaan sumberdaya alam
Menjelaskan pemanfaatan sumberdaya alam secara arif
1.      Pemanfaatan sumberdaya alam
2.      Prinsip ekoefisiensi
3.      Pembangunan berkelanjutan
4.      Pembangunan berwawasan lingkungan
6.
Menganalisis pemanfaatan dan pelesatarian lingkungan hidup
Mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan

Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan
Menganalisis pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan

Pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan
7.
Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan
Mendeskripsikan prinsip-prinsip dasar peta dan pemetaan
1.      Definisi peta
2.      Jenis-jenis peta
3.      Komponen peta
4.      Definisi proyeksi peta
5.      Jenis-jenis proyeksi peta

Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan

Membuat peta lingkungan sekitar/ sekolah
Menganalisis lokasi industri dan pertanian dengan pemanfaatan peta
1.      Klasifikasi industri
2.      Penentuan lokasi industri
3.      Pemanfaatan peta dalam analisis lokasi industri dan pertanian
4.      Aglomerasi industri




8.
Memahami pemanfaatan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG)
Menjelaskan pemanfaatan citra penginderaan jauh
1.      Pengertian penginderaan jauh
2.      Perbedaan peta dengan citra penginderaan jauh
3.      Unsur-unsur citra penginderaan jauh
4.      Penafsiran objek pada citra penginderaan jauh
5.      Pemanfaatan citra penginderaan jauh

Menjelaskan pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG)
1.      Konsep dasar SIG
2.      Komponen SIG
3.      Tahapan kerja SIG
4.      Operasional SIG dalam kajian Geografi
5.      Manfaat SIG dalam kajian Geografi
9.
Menganalisis wilayah dan perwilayahan
Menganalisis pola persebaran, spasial, hubungan serta interaksi spasial desa dan kota
1.      Pengertian, potensi, klasifikasi, dan struktur ruang desa
2.      Pengertian, klasifikasi, dan struktur ruang kota
3.      Teori-teori interaksi keruangan
Menganalisis kaitan antara konsep wilayah dan perwilayahan dengan perencanaan pembangunan wilayah

1.      Konsep wilayah dan perwilayahan
2.      Konsep dasar pusat pertumbuhan
3.      Pusat-pusat pertumbuhan di Indonesia
Menganalisis wilayah atau  perwilayahan negara maju dan berkembang
1.      Indikator negara maju dan berkembang
2.      Ukuran keberhasilan pembangunan dari UNRISD
3.      Tahapan-tahapan perkembangan negara menurut W.W. Rostow
4.      Contoh-contoh negara maju dan berkembang
5.      Model pengembangan wilayah negara maju dan berkembang
6.      Pola pembangunan atau pengembangan wilayah di Indonesia

Sumber: Dokumen Pengembangan KTSP Mapel Geografi SMA (2009) 

Dengan mencermati potensi wisata di Kabupaten Jepara dan kurikulum pembelajaran Geografi SMA, dapat diambil suatu kesimpulan mengenai relevansi yang sangat erat antara keduanya. Pembelajaran Geografi di kelas X-XII memungkinkan untuk menggunakan pembelajaran kontekstual, yakni salah satunya dengan memilih tourism education sebagai kegiatan studi lapangan. Relevansi tersebut dapat disederhanakan dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 4.4
Relevansi Tourism Education dengan Pembelajaran Geografi SMA
di Kabupaten Jepara

NO
Kurikulum Geografi SMA
(Standar Kompetensi)
Lokasi Wisata untuk Kegiatan Pembelajaran Kontekstual Melalui Tourism Education

1.
Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek Geografi.
Semua lokasi wisata memungkinkan, namun dapat diprioritaskan lokasi yang terdekat dengan siswa.

2.
Memahami sejarah pembentukan Bumi
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dihubungkan dengan sejarah pembentukan Bumi.

3.
Menganalisis unsur-unsur geosfer
Semua lokasi wisata memungkinkan, namun dapat diprioritaskan lokasi yang terdekat dengan siswa.

4.
Menganalisis fenomena Biosfer dan Antroposfer
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dianalisis biosfer dan antroposfernya.

5.
Memahami sumberdaya alam
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dikaji sumberdaya alam yang ada di dalamnya.

6.
Menganalisis pemanfaatan dan pelesatarian lingkungan hidup
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dianalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidupnya.

7.
Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan
Siswa dapat diarahkan untuk membuat peta-peta Kabupaten Jepara baik peta umum maupun peta khusus, atau praktik membuat denah sekolah/ lingkungan sekitar.

8.
Memahami pemanfaatan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG)
Setelah mendapatkan pengalaman langsung melalui pembelajarn kontekstual, siswa diajak mengamati citra penginderaan jauh Kabupaten Jepara kemudian mengolahnya menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

9.
Menganalisis wilayah dan perwilayahan
Siswa diajak menganalisis wilayah dan perwilayahan di Kabupaten Jepara, misalnya terkait dengan perwilayahan secara administratif, perwilayahan kawasan industri, dan perwilayahan kawasan wisata. Kegiatan ini akan berjalan dengan lebih lancar apabila didukung oleh peta, citra penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Sumber: Hasil Pengolahan, 2009


4.4  Langkah-Langkah Strategis untuk Mewujudkan Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara
Berdasarkan pemaparan pada sub bab 4.1-4.3, maka dapat dirumuskan langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara. Langkah-langkah strategis tersebut setidaknya menyentuh dua kelembagaan, yaitu institusi pendidikan itu sendiri dan institusi pemerintah daerah setempat. Apabila ada kerja sama yang baik antara kedua komponen tersebut, maka pengembangan tourism education sebagai salah satu metode pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning) khususnya pembelajaran Geografi, akan menjadi kenyataan. Dan sebagai muaranya, para siswa memiliki ilmu yang lebih mendalam dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara, dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan yang dimaksud dalam makalah ini adalah SMA, sehingga komponen yang terlibat aktif adalah guru (Geografi) dan siswa. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:
(1). Guru memiliki kemauan dan kemampuan untuk mendesain kemudian menerapkan metode pembelajaran kontekstual, salah satunya dengan mengembangkan tourism education sebagai alternatif kegiatan studi lapangan.
(2). Guru memiliki kemauan dan kemampuan untuk menjalin silaturahim (network) dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dengan masyarakat maupun institusi pemerintah.
2.      Institusi Pemerintah Daerah
Institusi pemerintah daerah yang dimaksud dalam makalah ini adalah institusi yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengembangan tourism education. Institusi tersebut meliputi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:
(1). Pemerintah daerah memberikan kemudahan akses informasi bagi institusi pendidikan, terutama dalam hal penyelenggaraan tourism education sebagai bentuk pembelajaran kontekstual.
(2). Koordinasi dan sinergi antar institusi pemerintah daerah, sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap masyarakat dalam hal ini institusi pendidikan berikut proses pembelajaran yang dikembangkan di dalamnya.


BAB 5
PENUTUP

5.1  Simpulan
Berdasarkan pembahasan, penelaahan, dan analisis data-data yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Jepara meliputi wisata alam, wisata bahari/pantai, wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, wisata sentra kerajinan, dan wisata agro serta kuliner.
2.      Penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi geografisnya, sehingga dibagi menjadi empat Kawasan Pengembangan Pariwisata (KPP) yaitu: KPP-A berupa kawasan Kepulauan Karimunjawa, KPP-B berupa kawasan pesisir, KPP-C berupa kawasan daratan tengah, dan KPP-D berupa kawasan pegunungan.
3.      Relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara sangatlah erat, karena semua lokasi wisata yang ada dapat digunakan sebagai media sekaligus sumber pembelajaran yang tepat, khususnya untuk pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning) dengan tetap menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning).
4.      Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara setidaknya menyentuh dua komponen penting yaitu institusi pendidikan serta pemerintah daerah. Institusi pendidikan setidaknya melibatkan guru dan siswa, sedangkan institusi pemerintah daerah setidaknya melibatkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

5.1  Saran
Beberapa saran di bawah ini, tidak terlepas dari sasaran penulisan makalah yaitu mampu menyentuh empat sasaran utama sehingga mampu memunculkan dampak positif serta efektif. 
1.      Civitas akademika SMA Negeri 1 Mayong Kabupaten Jepara, marilah kita bersama senantiasa berupaya memperbaiki kualitas pembelajaran yang diselenggarakan, sehingga kita mampu berkontribusi dalam upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” serta menyiapkan generasi mendatang yang hidup dan kehidupannya lebih baik.
2.      Guru Geografi (khususnya SMA) di Kabupaten Jepara, marilah kita fungsikan forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai wadah untuk berdiskusi, curah gagasan, mengasah keterampilan, serta meningkatkan kemauan dan kemampuan guru sehingga terwujud pembelajaran Geografi yang mampu “membentuk karakter bangsa”.
3.      Jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara, dalam hal ini yang terkait dengan tourism education melalui pembelajaran Geografi SMA, yaitu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Kemauan untuk bersikap lebih pro aktif menyerap aspirasi dari masyarakat, kemudian menindaklanjutinya dengan memberikan kemudahan akses serta melayani masyarakat dengan baik, tentunya akan mengokohkan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah sehingga “memudahkan tercapainya tujuan pembangunan berupa peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup”.
4.      Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu institusi terpercaya yang melahirkan para geograf profesional di Indonesia, seyogyanya memberikan perhatian yang lebih serius terhadap upaya peningkatan kualitas guru-guru Geografi di Indonesia, sehingga pembelajaran Geografi pada akhirnya mampu “melahirkan para geograf muda yang handal dan profesional”.

Makalah ini diikutkan pada Seminar Guru dalam rangkaian 
Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2010


DAFTAR PUSTAKA

Soemarwoto, O. (1999). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.

Saptorini, P. (2006). Studi Kesesuaian Medan Pantai Logending Sebagai Objek Wisata di Kawasan Pantai Selatan Kebumen. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jepara. (2008). Draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jepara Tahun 2009-2029.

Gunawan, T. (2008). Peran Guru Geografi dalam Membentuk Geograf Muda. Makalah pada Seminar Guru dalam rangkaian Olimpiade Geografi Nasional Tingkat SMA Tahun 2008 di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rijanta. (2008). Mencetak Geograf Muda yang Handal. Makalah pada Seminar Guru dalam rangkaian Olimpiade Geografi Nasional Tingkat SMA Tahun 2008 di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Worosuprodjo, S., dan Marfai, M.A. (2008). Interpretasi Citra Untuk Perencanaan Tata Ruang. Makalah pada Diklat Pengolahan Data Spasial Kebumian Untuk Aparatur Pemerintah Daerah Jawa Tengah di LIPI-Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, Kebumen.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jepara. (2009). Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Kabupaten Jepara 2010-2019.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara. (2009). Jepara Dalam Angka 2008.

Saptorini, P. (2009). Dokumen Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Geografi. Jepara: SMA N 1 Mayong.