Barangkali kita merasa lelah dengan kondisi saat ini, tetapi sebagai hamba yang beriman bukankah kita tidak boleh putus asa? Hanya kepada Allah SWT kita muarakan semuanya, suka duka, segala cerita dalam perjalanan kehidupan ini, termasuk pandemi ini, mari kita berpikir positif kepada-Nya. Tak ada satu pun yang sia-sia dalam setiap penciptaan-Nya, dan tak ada satu pun ketentuan-Nya yang menyulitkan hamba-Nya. Pastilah ada banyak hal yang hendak Dia ajarkan kepada kita, melalui pandemi ini. Jadi, mari kita menggali lebih dalam untuk bisa memaknai dengan penuh kearifan.
Kebersamaan dengan keluarga menjadi salah satu hal yang paling dirasakan, terutama bagi para Ibu yang bekerja di luar rumah. Melalui pandemi ini, dengan adanya ketentuan work from home, sungguh, itu adalah karunia yang luar biasa. Teringat ayat yang diulang-ulang dalam Surat Ar Rahman, "Maka, nikmat Tuhan kami yang manakah yang kamu dustakan?"
Jujur, saya sebagai seorang Ibu dengan empat anak, mengajar juga di sekolah, selama ini mempercayakan pengasuhan anak pada sesosok wanita paruh baya yang sangat perhatian dan sayang kepada semua anak di rumah. Saya sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, dan sangat terbantu dengan kehadirannya di tengah keluarga kami. Namun, sejak pandemi makin meluas dan perumahan kami memberlakukan kebijakan satu pintu, maka pengasuh anak kami pun mulai kesulitan menjangkau tempat kami karena harus memutar. Fisiknya yang sudah cukup tua membuatnya tak segesit mereka yang masih muda. Sementara kami pun tak mesti bisa menjemputnya.
Suatu pagi, dia datang ke rumah dan membawa kabar yang mengagetkan. Anaknya menyuruh istirahat dan mengasuh cucu, sehingga dia minta untuk berhenti bekerja di tempat kami. Jujur, dalam hati kecil smepat bertanya-tanya, apakah ada salah kata atau perbuatan dari kami sehingga dia tidak kerasan? Hampir tiga tahun dia merawat anak bungsu kami, Affan, dan selama ini rasa-rasanya tak ada hal yang memperburuk komunikasi kami. Tapi ya sudahlah, rasanya juga tak bijaksana jika kami harus menahan atau tak mengizinkannya. Sedih, pastinya, terutama si kecil. Namun, seiring berjalannya waktu dan kebersaman kami dalam waktu yang cukup lama, membuat si kecil mudah beradaptasi dan akhirnya kami bisa melewati masa-masa sulit itu.
Semester genap tahun ajaran 2020/2021 insya Allah akan dimulai tanggal 11 Januari nanti. Kami pun harus berbenah dan mempersiapkan skenario A/B. Skenario A, jika sekolah tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat, sementara skenario B, jika sekolah tetap online. Barangkali jika skenario B yang nantinya dilaksanakan, tidak akan terlalu banyak masalah karena kemarin-kemarin toh kami sudah melewatinya. Satu catatan, anak-anak harus lebih aktif dalam mengerjakan tugas, terutama saya juga, untuk lebih disiplin mengirimkan tugas. Nah, jika skenario A yang harus dilaksanakan, barulah muncul beberapa masalah yang harus diantisipasi.
Pertama, bagaimana dengan si kecil? Kepada siapa dia akan kami titipkan? Kepada tetangga, saudara, tempat penitipan anak, ataukah saya bawa bekerja? Atau pengasuh yang kemarin coba saya bujuk dan ajak untuk kembali mengasuh di kecil? Tapi rasanya kurang etis.....
Kedua, bagaimana dengan kedua kakaknya yang bersekolah di SD? Kalau yang kelas 5, sudah bisa mandiri bersepeda ke sekolah, tetapi bagaimana dengan yang masih kelas 1? Rasanya tak elok juga kalau membiarkan dia menghadapi resiko besar di perjalanan menuju sekolah. Nah, kalau menggunakan jasa ojek, amankah, dan adakah Ibu2 tetangga sini yang bersedia antar jemput?
Sepertinya itu dua masalah yang sangat penting untuk dicarikan solusinya jika skenario A yang dijalankan. Kakak yang sekolah di SMA saya anggap sudah mandiri, lagipula lokasi sekolahnya dekat dan bisa dijangkau dengan bersepeda atau pun jalan kaki.
Meskipun dalam ketidakpastian, tetaplah menyalakan lilin-lilin harapan dalam hidup kita. Jangan biarkan ketidakpastian itu membuat kita tak bisa melihat sisi terang berupa harapan. Nyalakan, dan terangi sekeliling kita. Mari, merajut doa dan harapan, bergandengan tangan, terutama bersama keluarga kita, tetangga, handai taulan, dan seluruh umat manusia, karena sesungguhnya kita semua sama di hadapan-Nya.






