Home

Rabu, 18 Maret 2020

Pengembangan Tourism Education Melalui Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara Jawa Tengah












BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Penataan ruang untuk kawasan wisata terkadang tidak diimbangi dengan pemanfaatan ruang tersebut secara efektif. Sebagian besar wisatawan menerjemahkan kegiatan wisata sekedar kegiatan bersenang-senang, dengan menggeneralisir apa pun objek dan fungsi kawasan wisata tersebut. Padahal, setiap objek dan kawasan wisata memiliki karakteristik dan peruntukan tersendiri. Alangkah bijaknya apabila wisatawan memahami hal ini, sehingga pada akhirnya mampu menggunakan kawasan wisata sesuai dengan karakteristik objek dan peruntukannya.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mengenai hal ini adalah melalui dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran Geografi baik di tingkat pendidikan dasar, menengah,  maupun pendidikan tinggi. Sebagai contoh, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sesekali dilaksanakan dengan cara studi lapangan dan di sana siswa dilatih kemampuannya untuk bisa mengidentifikasi dan menganalisis objek yang diamatinya. Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara kontinu, perlahan tapi pasti akan terjadi perubahan cara pandang dan sikap masyarakat mengenai wisata dan objek wisata itu sendiri. Salah satunya, wisata diterjemahkan sebagai kegiatan menarik sekaligus menantang untuk mendapatkan suatu ilmu dan pengalaman baru.

Kabupaten Jepara memiliki potensi wisata beragam dan memungkinkan untuk dikembangkan khususnya terkait dengan pembelajaran Geografi mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Hal ini didukung oleh kondisi demografis berupa struktur penduduk muda, sehingga terbuka peluang untuk menanamkan pemahaman dan kesadaran pada generasi muda.
Namun, pada kenyataannya di lapangan, pembelajaran Geografi belum sepenuhnya memiliki relevansi dengan upaya tersebut. Tidak sedikit di antara para pendidik yang mengesampingkan kegiatan sudi lapangan, dengan berbagai faktor penyebab antara lain: alokasi waktu dan pembagian materi dalam kurikulum yang tidak proporsional, cakupan materi luas dianggap sulit oleh siswa, persiapan ujian, dan pembiayaan.

Hal inilah yang melatarbelakangi penyusunan makalah dengan judul “Pengembangan Tourism Education Melalui Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah”. Permasalahan yang dikaji dalam makalah ini nampaknya juga dijumpai di wilayah lain, sehingga diharapkan makalah ini dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi teman-teman guru khususnya yang mengajar mata pelajaran Geografi di tingkat pendidikan menengah.

1.2  Rumusan Masalah
Masalah dalam makalah ini dibatasi dengan rumusan sebagai berikut:
1.      Apa saja potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Jepara?
2.      Bagaimana penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara?
3.      Bagaimana relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara?
4.      Apa saja langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara?







1.3  Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Jepara.
2.      Mengetahui penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara.
3.      Mengetahui relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara.
4.      Mengetahui langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara.

1.4  Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penyusunan makalah ini antara lain:
1.      Meningkatnya keterampilan menulis ilmiah, khususnya sehubungan dengan aplikasi disiplin ilmu Geografi dalam konteks penataan ruang di suatu wilayah.
2.      Bertambahnya wawasan dan pengenalan kondisi serta potensi daerah, sehingga dapat dikorelasikan dengan pembelajaran Geografi SMA.
3.      Terjalinnya kerja sama dengan berbagai pihak terutama ketika proses pengumpulan data, dan diharapkan pada tahap selanjutnya akan mempercepat terwujudnya sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA.

1.5  Sistimatika Penulisan
Makalah ini ditulis dengan sistimatika sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
1.4  Manfaat
1.5  Sistimatika Penulisan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Definisi Ruang, Wilayah, Kawasan, dan Penataan Ruang
2.2     Tujuan dan Aspek yang Diperhatikan dalam Penataan Ruang
2.3     Pemanfaatan Ruang Sebagai Kawasan Wisata
2.4     Korelasi Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Geografi

BAB 3 METODE PENULISAN
3.1  Pendekatan Penulisan
3.2  Metode Pengumpulan Data
3.3  Sasaran Penulisan
3.4  Tahapan Penulisan

BAB 4 PEMBAHASAN
4.1  Potensi Wisata di Kabupaten Jepara
4.2  Penataan Ruang Kawasan Wisata di Kabupaten Jepara
4.3  Relevansi Tourism Education dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara
4.4  Langkah-Langkah Strategis untuk Mewujudkan Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara

BAB 5 PENUTUP
5.1 Simpulan
5.2 Saran

  
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Definisi Ruang, Wilayah, Kawasan, dan Penataan Ruang
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mendefiniskan ruang, wilayah, kawasan, dan penataan ruang sebagai berikut:
1.      Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, laut, dan udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat di mana manusia dan makhluk hidup lain melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
2.      Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistimnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
3.      Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
4.      Penataan ruang adalah suatu sistim proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

2.2     Tujuan dan Aspek yang Diperhatikan dalam Penataan Ruang
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 mengamanatkan bahwa penataan ruang bertujuan untuk:
1.      Mewujudkan keharmonisan antara lingkungan alam dan buatan.
2.      Mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia.
3.      Mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
  
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 juga mengamanatkan bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan:
1.      Kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana.
2.      Potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan.
3.      Geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.

2.3     Pemanfaatan Ruang sebagai Kawasan Wisata
Salah satu bentuk pemanfaatn ruang adalah sebagai kawasan wisata, dimana wisata (tourism) itu diterjemahkan sebagai berikut:
1.      Aktivitas sementara waktu, dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan menikmati perjalanan, pertamasyaan, rekreasi, atau memenuhi keinginan yang beragam. (Yoeti: 1990 dalam Saptorini, 2006)
2.      Kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. (Soekadijo: 2000 dalam Saptorini, 2006)
3.      Aktivitas bepergian bersama untuk memperluas pengetahuan dan mendapat kesenangan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2002 dalam Saptorini, 2006)
4.      Aktivitas yang dikenali dari karakteristiknya antara lain: bersifat sementara, bukan untuk mencari nafkah melainkan menikmati perjalanan, dan memperoleh pelayanan wisata. (Saptorini, 2006)     


2.4     Korelasi Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Geografi         
Penataan ruang kawasan wisata memiliki korelasi yang erat dengan Geografi. Soemarwoto (1999) mengemukakan bahwa pariwisata merupakan industri yang kondisinya sangat tergantung pada kualitas lingkungan. Oleh karena itu, dalam pengembangan dan penataannya harus memperhatikan beberapa faktor antara lain: daya dukung lingkungan, keanekaragaman, keindahan alam, vandalisme, pencemaran, kerusakan hutan, dampak sosial budaya, dan zonasi.
Hal tersebut sejalan dengan UU No. 26 Thn. 2007 yang menegaskan bahwa penyelenggaraan penataan ruang harus memperhatikan kondisi fisik wilayah, potensi sumberdaya, dan berbasis geo (gestrategi, geopolitik, geoekonomi).

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam kajian Geografi adalah pendekatan keruangan (spatial), dimana pendekatan ini sangat menekankan pada aspek keruangan atau tata ruang wilayah. Dengan demikian, menjadi jelaskah korelasi antara penataan ruang kawasan wisata dengan Geografi.

  
BAB 3
METODE PENULISAN

3.1  Pendekatan Penulisan
Makalah ini ditulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang didasarkan pada ketiga pendekatan Geografi yaitu pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah.

3.2  Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah data primer dan sekunder, yang dikumpulkan melalui serangkaian metode sebagai berikut:
1.      Pengamatan di beberapa lokasi objek atau kawasan wisata di Jepara antara lain: Sentra  Tenun Troso, Sentra Meubel Ukir, Sentra Kerajinan Monel, Pantai Bandengan, Pantai Kartini, Pantai Pungkruk, Bumi Perkemahan Pakis Aji, dan Pulau Panjang.
2.      Wawancara dengan masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
3.      Studi pustaka dan dokumentasi baik dari sekolah maupun pemerintah daerah setempat dalam hal ini Bappeda dan BPS Kabupaten Jepara.

3.3  Sasaran Penulisan
Sasaran penulisan makalah ini antara lain:
1.      Civitas akademika SMA Negeri 1 Mayong, Jepara.
2.      Guru Geografi (khususnya SMA) di Kabupaten Jepara.
3.      Jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara, dalam hal ini yang terkait dengan tourism education melalui pembelajaran Geografi SMA, yaitu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
4.      Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

3.4  Tahapan Penulisan
Berikut ini merupakan skema tahapan penulisan dalam penyusunan makalah ini, yang dimulai dari tahapan perumusan masalah dan tujuan, metode penulisan, metode pengumpulan data, analisis, sampai tahapan simpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah yang diajukan.





  

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1  Potensi dan Permasalahan Wisata di Kabupaten Jepara
Kabupaten Jepara memiliki potensi dan permasalahan wisata yang beragam, antara lain:
1.      Wisata Alam
Potensi wisata alam di Jepara cukup variatif, meliputi: air terjun Songgolangit, Desa Wisata Tempur, Wanawisata Desa Batealit, Wanawisata Desa Bategede, Wanawisata Desa Tanjung, Wanawisata Desa Sumanding, Wanawisata Desa Damarwulan, Goa Tritip, dan Bumi Perkemahan Pakis Aji.
 


 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata alam di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Pengelolaan yang kurang profesional, baik oleh dinas terkait maupun masyarakat setempat .
(2). Kurang memadainya infrastruktur berupa akses jalan, toilet umum, mushola, gardu pandang, homestay, serta kesiapan masyarakat setempat untuk berperan aktif sebagai pelaku wisata.
(3). Kurang efektifnya promosi wisata.

2.      Wisata Bahari/Pantai
Potensi wisata bahari/pantai di Kabupaten Jepara cukup bervariatif juga, antara lain: Pantai Bandengan/Tirta Samudra, Pantai Kartini, Pulau Panjang, Pantai Pailus, Pantai Pungkruk, Waterboom Alamoya, Pantai Bondo, dan Pantai Banyutowo. Sebagian besar pantai tersebut memiliki pasir putih, dan tersedia
 



 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata bahari/pantai di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi untuk menuju beberapa lokasi wisata bahari/pantai.
(2). Bercampurnya fungsi ruang wisata dengan permukiman dan tidak teraturnya pertumbuhan bangunan dalam zona wisata.
(3). Kurangnya papan penunjuk ke lokasi wisata, rusaknya bangunan-bangunan tempat istirahat, sebaran pedagang yang tidak tertata dengan baik, ketidakjelasan area parkir, kurangnya pencitraan keunggulan daerah setempat, serta kurangnya lampu penerangan di lokasi wisata.
(4). Kurangnya kesadaran masyarakat dan wisatawan dalam hal menjaga kebersihan di lokasi wisata.  

3.      Wisata Religi
Potensi wisata religi di Kabupaten Jepara antara lain: Makam dan Masjid Mantingan, serta Klenteng Hiang Thiang Siang Tee.
 









Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata religi  di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Kurangnya promosi dan terbatasnya papan penunjuk.
(2). Kurangnya kesadaran wisatawan untuk menjaga kebersihan di lokasi wisata.


4.      Wisata Sejarah
Potensi wisata sejarah di Kabupaten Jepara antara lain: Benteng Portugis, Benteng VOC, Plasenta/Ari-ari Kartini, Pendopo Kabupaten, dan Museum R.A. Kartini.
 


 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata sejarah  di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Buruknya kualitas jaringan jalan menuju beberapa lokasi wisata.
(2). Ketidakjelasan papan penunjuk lokasi wisata.
(3). Kurang intensifnya promosi wisata.

5.      Wisata Budaya
Potensi wisata budaya di Kabupaten Jepara juga bervariatif, antara lain: Perang Obor, Gong Senen, Lomban/Pekan Syawalan, Pesta Baratan, Tradisi Jembul Tulakan, Sonder Kalinyamat, dan Prosesi Hari Jadi Kabupaten Jepara.



 Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata budaya di Kabupaten Jepara adalah kurang intensifnya promosi wisata.

6.      Wisata Sentra Kerajinan
Potensi wisata sentra kerajinan di Kabupaten Jepara cukup bervariatif, antara lain: sentra kerajinan rotan, patung, ukir, furniture/meuble, relief, tenun Troso, gerabah/keramik dan genteng, konveksi, monel, dan pembuatan roti.
 



  Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata sentra kerajinan di Kabupaten Jepara antara lain:
(1). Kurangnya aksesibilitas/jaringan jalan menuju beberapa lokasi wisata.
(2). Kurang intensif dan efektifnya media promosi.
(3). Kurangnya pelatihan untuk para pengrajin/pengusaha.

7.      Wisata Agro dan Kuliner
Potensi wisata agro dan kuliner di Kabupaten Jepara antara lain: kluster buah-buahan (durian, jeruk siam, belimbing), peternakan kambing peranakan Etawa, agroteknopark/kampung teknologi, dan wisata kuliner Pantai Pungkruk.
 



Ada pun permasalahan yang muncul pada pengembangan wisata agro dan kuliner di Kabupaten Jepara adalah minimnya aspek pengembangan serta kurang seriusnya penanganan dari instansi terkait.
  

4.2  Penataan Ruang Kawasan Wisata di Kabupaten Jepara
Dalam kajian potensi serta prospek pengembangan wilayah, Bappeda Kabupaten Jepara (RIPP: 2009) merumuskan bahwa arahan pengembangan sektor pariwisata meliputi tiga aspek: promosi ke luar daerah, perbaikan dan penambahan akomodasi wisata, serta peningkatan hubungan kerja sama baik pemerintah, masyarakat, maupun antar pelaku wisata.  

Arahan pengembangan tersebut sejalan dengan fungsi Jepara dalam penataan ruang Jawa Tengah, dimana Jepara menempati dua kawasan strategis:
1.      Kawasan Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati)
Kota-kota utama di kawasan ini adalah Kota Kudus, Pati, dan Jepara. Ada pun kota-kota pendukunganya adalah Kota Jati, Juwana, Tayu, dan Pecangaan. Kawasan ini memiliki potensi alam dan budaya yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan, salah satunya terkait dengan tourism education dan pembelajaran Geografi.
2.      Kawasan Kepulauan Karimunjawa
Kawasan ini memiliki fungsi utama sebagai kawasan konservasi laut. Selain itu, dikembangkan pula aktivitas wisata, perikanan, perekonomian, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
           
Pengelolaan kawasan wisata dimaksudkan untuk memanfaatkan potensi alam dan budaya dengan memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya,  adat- istiadat, mutu, dan keindahan alam, untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Wujud kawasan wisata sangat beragam, antara lain: kawasan perindustrian, pertanian, suaka alam dan hutan wisata,  suaka alam laut dan perairan lainnya, taman nasional, taman hutan raya, serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
  
Kawasan wisata di Kabupaten Jepara ditentukan dengan didasarkan pada berbagai kriteria antara lain:
1.      Mempunyai keindahan alam dan panorama.
2.      Kebudayaan masyarakatnya bernilai tinggi dan diminati wisatawan.
3.      Adanya bangunan peninggalan budaya atau bernilai sejarah tinggi.
4.      Memiliki radius sekitar 2 km dari lokasi wisata, sedangkan untuk kawasan penyangga memiliki radiius 5 km dari lokasi wisata.

Oleh karena itu, dalam pengembangan wisata di Kabupaten Jepara, dilakukanlah pengaturan berupa:
1.      Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
2.      Perlindungan terhadap situs peninggalan budaya atau sejarah.
3.      Pembatasan pendirian bangunan di kawasan wisata. (hanya untuk menunjang kegiatan wisata).

Beberapa rencana pengembangan yang telah disusun dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (Bappeda: 2009) meliputi:
1.  Pengembangan perjalanan wisata.
2.  Pengembangan wisata pedesaan.
3.  Pengembangan pasar seminar dan konferensi.
4.  Pengembangan event tertentu sebagai atraksi wisata.
5.  Peningkatan penduduk pemasaran objek wisata.
  
Pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Jepara diarahkan sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 4.1
Pengembangan Kawasan Wisata di Kabupaten Jepara

No.
Kawasan
Kriteria

Lokasi Wisata

1.
Unggulan
Memiliki objek wisata langka,  daya tarik kuat, tidak dijumpai di daerah lain, sudah teruji di pasar domestik dan macanegara, serta berdampak cepat dan menyeluruh terhadap pembangunan. 

1.      TN. Karimunjawa
2.      Pulau Panjang
3.      Pantai Kartini.
2.
Andalan
Cukup potensial untuk dikembangkan dan mampu menarik wisatawan.

1.      Pantai Bandengan
2.      Benteng Portugis
3.      Makam dan Masjid Mantingan
4.      Museum Kartini.
3.
Potensial Pengembangan
Memiliki potensi pengembangan tetapi belum dikembangkan karena keterbatasan aksesibilitas dan sarana pendukung.
1.      Monumen ari-ari Kartini
2.      Sreni Indah
3.      Sonder Kalinyamatan
4.      Air Terjun Songgolangit
5.      Goa Tritip
6.      Ekowisata Desa Damarwulan
7.      Agrowisata Desa Tempur
8.      Wanawisata Desa Semanding
9.      Wanawisata Desa Batealit
10.  Wanawisata Desa Bategede
11.  Wanawisata Desa Tanjung

Sumber: Draft RTRW 2009-2029 (Bappeda Kab. Jepara)

Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih sebagian besar kawasan wisata di Kabupaten Jepara masuk kategori kawasan potensial pengembangan. Hal ini memberikan peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkannya sehingga menjadi wisata andalan, bahkan unggulan.
Oleh karena itu, dilakukanlah penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara dengan menggunakan rencana perwilayahan pengembangan kawasan wisata. Kriteria pengembangan yang digunakan antara lain: jenis dan karakter objek serta daya tarik wisata, kesamaan arah dan cara pencapaian, kedekatan dari pusat-pusat pelayanan, serta kedudukan sebaran objek dan daya tarik wisata secara geografis.

Rencana pengembangan tata ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara dibagi dalam dua tingkat perwilayahan, yaitu:
  1. Kawasan Pengembangan Pariwisata (KPP)
Merupakan wilayah struktur pengembangan yang merangkum beberapa objek atau kawasan wisata dalam satu kesatuan pengembangan. KPP didasarkan pada pertimbangan kesamaan tipologi objek dan jenis daya tarik wisata, serta pertimbangan lokasi atau sebarannya secara geografis. Kabupaten Jepara memiliki empat KPP, yaitu:
(1).  KPP A-Kepulauan Karimunjawa
(2).  KPP B-Pesisir
(3).  KPP C-Daratan Tengah
(4).  KPP D-Pegunungan.
  1. Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP)
Merangkum beberapa KPP, dimana penentuannya didasarkan pada pertimbangan konsep struktur Tata Ruang dan pertimbangan kesamaan tipologi KPP.

Perwilayahan tata ruang pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Jepara berikut produk yang ditawarkan, ditampilkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2

KPP
Cakupan Wilayah
ODTW
Pusat Pelayanan
Basis Pengembangan Produk
KPP A
Karimunjawa
Kec. Karimunjawa
1.       Wisata Darat Karimunjawa
2.       Wisata Bahari Karimunjawa
3.       Makam Kunci
4.       Makam Nyamplungan
5.       Sumur Wali
6.       Biota Air Bawah Laut

Kota Karimunjawa
Pengembangan produk wisata berbasis pesisir/pantai/bahari, wisata budaya, dan wisata pendidikan



KPP B
Pesisir


1.       Kec. Jepara
2.       Kec. Tahunan
3.       Kec. Mlonggo
4.       Kec. Kembang
5.       Kec. Donorojo

1.       Pantai Kartini
2.       Pantai Bandengan
       (Tirta Samudra)
3.       Pantai Pailus
4.       Pantai Pungkruk
5.       Pantai Banyutowo
6.       Benteng Portugis
7.       Lomban/Pekan Syawalan
8.       Perang Obor

Kecamatan Jepara
Kecamatan Donorojo
Pengembangan produk wisata pesisir/pantai/bahari, wisata budaya, dan wisata sejarah
KPP C
Daratan Tengah
1.       Kec. Welahan
2.       Kec. Tahunan
3.       Kec. Jepara
4.       Kec. Mayong
5.       Kec. Kalinyamatan
6.       Kec. Donorojo
7.       Kec. Pecangaan
8.       Kec. Pakis Aji
1.       Makam & Masjid Mantingan
2.       Klenteng Hian Thiang Tse
3.       Plasenta Ari-ari Kartini
4.       Pendopo Kabupaten
5.       Museum Kartini
6.       Benteng VOC
7.       Gong Senen
8.       Pesta Baratan
9.       Tradisi Jembul Tulakan
10.   Sonder Kalinyamat
11.   Proses Hari Jadi Kota Jepara
12.   Sentra Kerajinan Rotan
13.   Sentra Kerajinan Patung/Ukir
14.   Sentra Kerajinan Mebel
15.   Sentra Kerajinan Kain Troso
16.   Sentra Kerajinan Gerabah/ Keramik
17.   Sentra Kerajinan Konveksi
18.   Sentra Kerajinan Roti
19.   Sentra Kerajinan Monel
20.   Kluster Buah Belimbing
21.   Kluster Buah Durian
22.   Agroteknopark

Kecamatan Jepara
Kecamatan Tahunan
Pengembangan produk wisata berbasis wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, dan sentra kerajinan
KPP D
Pegunungan
1.       Kecamatan Kembang
2.       Kecamatan Keling
3.       Kecamatan Nalumsari
4.       Kecamatan Batealit
5.       Kecamatan Pakis Aji
6.       Kecamatan Donorojo
7.       Kecamatan Nalumsari

1.       Air Terjun Songgolangit
2.       Desa Wisata Tempur
3.       Wana Wisata Desa Bategede
4.       Wana Wisata Desa Tanjung
5.       Wana Wisata Desa Sumanding
6.       Wana Wisata Desa Damar Wulan
7.       Gua Tritip
8.       Kluster Buah Jeruk Siam
9.       Bumi Perkemahan
10.   Kluster Kambing PE
Kecamatan Pakis Aji
Pengembangan produk wisata berbasis wisata alam, wisata kuliner berupa kluster buah-buahan
Sumber: Bappeda Kabupaten Jepara (RIPP: 2009)


Berdasarkan tabel 4.2 tersebut, diketahui bahwa keempat KPP di Kabupaten Jepara memiliki karakteristik khas dan masing-masing menawarkan objek wisata yang cukup beragam. Hal ini memberikan peluang bagi para wisatawan untuk memilih lokasi yang sesuai dengan minat atau pun tujuannya berwisata.

Namun, ada beberapa KPP yang pengelolaannya belum optimal meskipun sudah tersedia fasilitas penunjang wisata di Kabupaten Jepara antara lain:
1.      Fasilitas akomodasi berupa resort, camping ground, dan hotel.
2.      Fasilitas rumah makan lokal dan internasional.
3.      Fasilitas informasi berupa Tourism Information Centre (TIC) dan papan informasi wisata.
4.      Fasilitas telekomunikasi berupa wartel dan warnet.
5.      Fasilitas penjualan cinderamata berupa art shop dan kios cinderamata.
6.      Fasilitas jasa pengatur perjalanan wisata berupa biro perjalanan.
7.      Fasilitas penukaran uang (money changer).
8.      Fasilitas petunjuk penandaan berupa main gate dan penunjuk arah.

4.3  Relevansi Tourism Education dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara
Ada relevansi yang sangat erat antara tourism education dengan pembelajaran Geografi, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Diharapkan, dengan adanya kegiatan tourism education ini para siswa mendapatkan pengalaman belajar nyata di lapangan sehingga pemahaman tentang keilmuan yang diperolehnya di sekolah menjadi lebih komprehensif. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran contextual teaching learning, dimana siswa diajak memahami sesuatu dengan menghubungkan apa-apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, siswa memiliki keterampilan mengaplikasikan ilmu yang dipelajari dengan dunia nyata.

Gunawan (2008) menyatakan bahwa guru Geografi memiliki peranan dalam membentuk karakter bangsa Indonesia, sehingga bangsa ini mengetahui keseluruhan wilayahnya dengan baik, termasuk permasalahan yang sedang dan akan dihadapi karena kondisi sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, guru Geografi harus memiliki kemampuan untuk:
1.      Menanamkan batas-batas wilayah geografis Indonesia.
2.      Mendeskripsikan kondisi dan potensi wilayah geografis Indonesia secara makro.
3.      Menggambarkan informasi geografis secara benar dan mampu menjelaskannya pada disiplin ilmu lain secara benar.
4.      Mampu menyajikan model-model pembelajaran kontekstual yang mudah diterima oleh geograf muda maupun disiplin ilmu yang memerlukan.
5.      Mampu bersikap dinamik, adaptif, dan sistemik dalam menghadapi keanekaragaman masyarakat Indonesia. 
  
Untuk mewujudkan semua itu, masih menurut Gunawan, perlu dilakukan penyeragaman guru Geografidi Indonesia, dengan cara:
1.      Guru (dan juga dosen) Geografi harus sepaham dan seragam dalam pembelajaran Geografi.
2.      Objek kajian utama berupa geosfer harus menjadi panduan sesuai dengan tingkat atau level studi Geografi.
3.      Penggunaan pendekatan spasial, ekologis-lingkungan, dan kompleks wilayah dalam mengkaji fenomena geosfer.
4.      Penggunaan pendukung pembelajaran berupa peta umum atau Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta tematik, foto udaradan citra satelit, serta instrumentasi di laboratorium dan lapangan.
5.      Penggunaan teknologi Sistem Infomasi Geografis (SIG) sebagai pendukung pengolahan data.
6.      Pelaksanaan observasi atau kunjungan lapangan secara langsung, baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah,maupun pendidikan tinggi.
7.      Peningkatan keterampilan dan kemampuan (skill and ability) secara terus-menerus (continuous improvement).
8.      Secara periodik, guru dan dosen Geografi melakukan studi banding (bechmarking) untuk perbaikan diri (self imporovement) secara mandiri (internally driven).

Sementara itu, Rijanta (2008) mengemukakan sepuluh kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang geograf agar layak menyandang predikat Geograf Profesional. Kesepuluh kemampuan itu meliputi kemampuan dalam hal:
1.      Berpikir secara spasial.
2.      Membaca dan memahami lansekap.
3.      Menilai implikasi (spasial) dari distribusi beragam karakteristik lansekap.
4.      Memikirkan lebih dari satu macam distribusi (spasial) pada saat yang sama, sekaligus memahami setiap kemungkinan keterkaitan antar objek yang sedang dipelajari.
5.      Merubah skala pemikiran sesuai kebutuhan untuk berbagai fenomena atau masalah yang sedang dianalisis.
6.      Menambahkan dimensi waktu dalam analisis jika diperlukan.
7.      Menempatkan fenomena yang sedang diamati dalam suatu kerangka model atau sistem.
8.      Memahami dan berpikir dengan mengaitka sistem fisik dan sosial (manusia) dalam suatu lansekap.
9.      Menggunakan teknik-teknik seperti:
(1). Memperoleh informasi melalui kerja lapangan, analisis peta atau citra yang bersumber inderaja; dengan menekankan distribusi dan hubungan keruangan.
(2). Mengelola seperangkat data yang berukuran besar atau tidak lengkap, baik bersifat spasial maupun berbasis waktu (historis) dengan metode kuantitatif dan menggunakan komputer.
(3). Melakukan penelusuran dan memanfaatkan sumber-sumber literatur termasuk arsip dan catatan-catatan historis.
(4). Memonitor berbagai komponen lansekap dan mampu menyajikannya untuk keperluan analisis lebih lanjut.
(5). Menyajikan informasi dengan jelas, utamanya dalam bentuk peta.
(6). Memanfaatkan kemajuan teknologi seperti SIG untuk membantu memperoleh pandangan yang menyeluruh (holistic) tentang sesuatu masalah.
10.  Mampu menyatakan dengan baik penemuan-penemuannya dan  menghubungkannya dengan berbagai disiplin ilmu terkait.


UNWIM: 1992 dalam Rijanta (2008) mengemukakan beberapa upaya untuk mencetak geograf muda yang handal atau profesional, antara lain:
1.      Pembelajaran lebih berpusat pada siswa (student centered learning),yang dapat diterapkan dengan beberapa uapaya berikut:
(1). Kontak yang intensif antara siswa dengan guru.
(2). Kerja sama antar siswa.
(3). Pembelajaran aktif.
(4). Umpan balik yang memadai.
(5). Perhatian pada waktu.
(6). Adanya komunikasi untukmeraih harapan ideal.
(7). Penghargaan terhadap keragaman pengalaman belajar.
(8). Evaluasi diri.
(9). Identifikasi atau perumusan tujuan yang jelas.
(10). Praktik atau latihan yang menguntungkan dari segi pendidikan.
2.      Pembelajaran tidak sekedar menyampaikan fakta yang diketahui.
3.      Emansipasi dalam pembelajaran.
4.      Kurikulum dijadikan sebagai target minimum, bukan sebagai pembatas maksimum.

Relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA dapat dilihat dengan mengkaji potensi pengembangan wisata di suatu wilayah dengan kurikulum Geografi SMA. Dalam makalah ini, penyusun membatasi pada ruang Kabupaten Jepara. Namun demikian, ide dalam makalah ini dapat diaplikasikan di wilayah lain untuk pembelajaran mata pelajaran yang sama. Bahkan, dapat juga dikembangkan untuk mata pelajaran lainnya, tentu saja setelah disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran tersebut.

Dalam pengembangan silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dirumuskan adanya standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendaknya dimiliki oleh setiap siswa yang belajar Geografi di tingkat SMA.

Tabel 4.3
Kurikulum Pembelajaran Geografi SMA

NO.
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
1.
Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek Geografi.
Menjelaskan konsep Geografi.
Konsep Geografi:
1.      Pengertian Geografi
2.      Konsep sepuluh esensial Geografi

Menjelaskan pendekatan Geografi.
Pendekatan Geografi:
1.      Keruangan (spatial approach)
2.      Kewilayahan
3.      Ekologi (ecological approach)

Menjelaskan prinsip Geografi.
Prinsip Geografi:
1.      Penyebaran
2.      Interelasi
3.      Deskripsi
4.      Korologi

Mendeskripsikan aspek, ruang lingkup, objek studi, dan struktur Geografi.
1.      Aspek Geografi (fisik dan sosial)
2.      Ruang Lingkup (Geosfer)
3.      Objek Studi (formal dan material)
4.      Struktur Geografi (kedudukan dan cabang Geografi)

2.
Memahami sejarah pembentukan Bumi
Mendeskripsikan Tata Surya dan Jagad Raya
Tata Surya dan Jagad Raya:
1.      Hipotesis terjadinya Jagad Raya dan Tata Surya
2.      Galaksi dan keluarga Tata Surya
Menjelaskan sejarah pembentukan Bumi
Pembentukan dan Perkembangan Bumi:
1.      Proses pembentukan dan perkembangan Bumi
2.      Karakteristik perlapisan Bumi
3.      Teori lempeng tektonik dan jalur vulkanik-seismik.

3.
Menganalisis unsur-unsur geosfer
Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Litosfer:
1.      Struktur lapisan kulit Bumi
2.      Tenaga endogen
3.      Tenaga eksogen
Pedosfer:
1.      Proses pembentukan tanah
2.      Jenis dan ciri tanah di Indonesia
3.      Erosi dan kerusakan tanah di Indonesia
4.      Penyebab dan kerusakan tanah

Menganalisis atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi
Atmosfer:
1.      Ciri-ciri lapisan atmosfer
2.      Unsur-unsur cuaca
3.      Persebaran hujan di Indonesia
4.      Berbagai klasifikasi iklim
5.      Pemanasan global dan fenomena El Nino, La Nina

Menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi
Hidrosfer:
1.      Siklus hidrologi
2.      Perairan darat
(1). Air tanah
(2). Daerah Aliran Sungai
(3). Danau
(4). Rawa
3.      Perairan laut
(1). Zona pesisir dan laut
(2). Klasifikasi laut
(3). Morfologi laut
(4). Gerakan air laut
(5). Kualitas airlaut

4.
Menganalisis fenomena Biosfer dan Antroposfer
Menjelaskan pengertian fenomena Biosfer
1.      Pengertian fenomena biosfer
2.      Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan flora dan fauna

Menganalisis sebaran hewan dan tumbuhan
1.      Sebaran hewan dan tumbuhan di permukaan bumi
2.      Dampak kerusakan hewan dan tumbuhan terhadap kehidupan

Menjelaskan pengertian fenomena Antroposfer
1.      Kuantitas penduduk
(1). Komposisi penduduk
(2). Kepadatan penduduk
(3). Pertumbuhan penduduk
(4). Proyeksi penduduk
(5). Angka kelahiran
(6). Angka kematian
2.      Kualitas penduduk
(1). Tingkat pendidikan
(2). Tingkat ekonomi
(3). Tingkat kesehatan

Menganalisis aspek kependudukan
1.      Natalitas
2.      Mortalitas
3.      Migrasi

5.
Memahami sumberdaya alam
Menjelaskan pengertian sumberdaya alam
Pengertian sumberdaya alam
Mengidentifikasi jenis-jenis sumberdaya alam
1.      Jenis sumberdaya alam
2.      Pengelolaan sumberdaya alam
Menjelaskan pemanfaatan sumberdaya alam secara arif
1.      Pemanfaatan sumberdaya alam
2.      Prinsip ekoefisiensi
3.      Pembangunan berkelanjutan
4.      Pembangunan berwawasan lingkungan
6.
Menganalisis pemanfaatan dan pelesatarian lingkungan hidup
Mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan

Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan
Menganalisis pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan

Pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan
7.
Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan
Mendeskripsikan prinsip-prinsip dasar peta dan pemetaan
1.      Definisi peta
2.      Jenis-jenis peta
3.      Komponen peta
4.      Definisi proyeksi peta
5.      Jenis-jenis proyeksi peta

Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan

Membuat peta lingkungan sekitar/ sekolah
Menganalisis lokasi industri dan pertanian dengan pemanfaatan peta
1.      Klasifikasi industri
2.      Penentuan lokasi industri
3.      Pemanfaatan peta dalam analisis lokasi industri dan pertanian
4.      Aglomerasi industri




8.
Memahami pemanfaatan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG)
Menjelaskan pemanfaatan citra penginderaan jauh
1.      Pengertian penginderaan jauh
2.      Perbedaan peta dengan citra penginderaan jauh
3.      Unsur-unsur citra penginderaan jauh
4.      Penafsiran objek pada citra penginderaan jauh
5.      Pemanfaatan citra penginderaan jauh

Menjelaskan pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG)
1.      Konsep dasar SIG
2.      Komponen SIG
3.      Tahapan kerja SIG
4.      Operasional SIG dalam kajian Geografi
5.      Manfaat SIG dalam kajian Geografi
9.
Menganalisis wilayah dan perwilayahan
Menganalisis pola persebaran, spasial, hubungan serta interaksi spasial desa dan kota
1.      Pengertian, potensi, klasifikasi, dan struktur ruang desa
2.      Pengertian, klasifikasi, dan struktur ruang kota
3.      Teori-teori interaksi keruangan
Menganalisis kaitan antara konsep wilayah dan perwilayahan dengan perencanaan pembangunan wilayah

1.      Konsep wilayah dan perwilayahan
2.      Konsep dasar pusat pertumbuhan
3.      Pusat-pusat pertumbuhan di Indonesia
Menganalisis wilayah atau  perwilayahan negara maju dan berkembang
1.      Indikator negara maju dan berkembang
2.      Ukuran keberhasilan pembangunan dari UNRISD
3.      Tahapan-tahapan perkembangan negara menurut W.W. Rostow
4.      Contoh-contoh negara maju dan berkembang
5.      Model pengembangan wilayah negara maju dan berkembang
6.      Pola pembangunan atau pengembangan wilayah di Indonesia

Sumber: Dokumen Pengembangan KTSP Mapel Geografi SMA (2009) 

Dengan mencermati potensi wisata di Kabupaten Jepara dan kurikulum pembelajaran Geografi SMA, dapat diambil suatu kesimpulan mengenai relevansi yang sangat erat antara keduanya. Pembelajaran Geografi di kelas X-XII memungkinkan untuk menggunakan pembelajaran kontekstual, yakni salah satunya dengan memilih tourism education sebagai kegiatan studi lapangan. Relevansi tersebut dapat disederhanakan dalam bentuk tabel berikut:

Tabel 4.4
Relevansi Tourism Education dengan Pembelajaran Geografi SMA
di Kabupaten Jepara

NO
Kurikulum Geografi SMA
(Standar Kompetensi)
Lokasi Wisata untuk Kegiatan Pembelajaran Kontekstual Melalui Tourism Education

1.
Memahami konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek Geografi.
Semua lokasi wisata memungkinkan, namun dapat diprioritaskan lokasi yang terdekat dengan siswa.

2.
Memahami sejarah pembentukan Bumi
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dihubungkan dengan sejarah pembentukan Bumi.

3.
Menganalisis unsur-unsur geosfer
Semua lokasi wisata memungkinkan, namun dapat diprioritaskan lokasi yang terdekat dengan siswa.

4.
Menganalisis fenomena Biosfer dan Antroposfer
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dianalisis biosfer dan antroposfernya.

5.
Memahami sumberdaya alam
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dikaji sumberdaya alam yang ada di dalamnya.

6.
Menganalisis pemanfaatan dan pelesatarian lingkungan hidup
Siswa dapat diajak untuk mengunjungi lokasi kawasan wisata di Kepulauan Karimunjawa, daerah pantai, daratan tengah, dan pegunungan, kemudian dianalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidupnya.

7.
Mempraktikkan keterampilan dasar peta dan pemetaan
Siswa dapat diarahkan untuk membuat peta-peta Kabupaten Jepara baik peta umum maupun peta khusus, atau praktik membuat denah sekolah/ lingkungan sekitar.

8.
Memahami pemanfaatan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG)
Setelah mendapatkan pengalaman langsung melalui pembelajarn kontekstual, siswa diajak mengamati citra penginderaan jauh Kabupaten Jepara kemudian mengolahnya menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

9.
Menganalisis wilayah dan perwilayahan
Siswa diajak menganalisis wilayah dan perwilayahan di Kabupaten Jepara, misalnya terkait dengan perwilayahan secara administratif, perwilayahan kawasan industri, dan perwilayahan kawasan wisata. Kegiatan ini akan berjalan dengan lebih lancar apabila didukung oleh peta, citra penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Sumber: Hasil Pengolahan, 2009


4.4  Langkah-Langkah Strategis untuk Mewujudkan Sinergisitas Penataan Ruang Kawasan Wisata dengan Pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara
Berdasarkan pemaparan pada sub bab 4.1-4.3, maka dapat dirumuskan langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara. Langkah-langkah strategis tersebut setidaknya menyentuh dua kelembagaan, yaitu institusi pendidikan itu sendiri dan institusi pemerintah daerah setempat. Apabila ada kerja sama yang baik antara kedua komponen tersebut, maka pengembangan tourism education sebagai salah satu metode pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning) khususnya pembelajaran Geografi, akan menjadi kenyataan. Dan sebagai muaranya, para siswa memiliki ilmu yang lebih mendalam dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara, dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan yang dimaksud dalam makalah ini adalah SMA, sehingga komponen yang terlibat aktif adalah guru (Geografi) dan siswa. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:
(1). Guru memiliki kemauan dan kemampuan untuk mendesain kemudian menerapkan metode pembelajaran kontekstual, salah satunya dengan mengembangkan tourism education sebagai alternatif kegiatan studi lapangan.
(2). Guru memiliki kemauan dan kemampuan untuk menjalin silaturahim (network) dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dengan masyarakat maupun institusi pemerintah.
2.      Institusi Pemerintah Daerah
Institusi pemerintah daerah yang dimaksud dalam makalah ini adalah institusi yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengembangan tourism education. Institusi tersebut meliputi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:
(1). Pemerintah daerah memberikan kemudahan akses informasi bagi institusi pendidikan, terutama dalam hal penyelenggaraan tourism education sebagai bentuk pembelajaran kontekstual.
(2). Koordinasi dan sinergi antar institusi pemerintah daerah, sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap masyarakat dalam hal ini institusi pendidikan berikut proses pembelajaran yang dikembangkan di dalamnya.


BAB 5
PENUTUP

5.1  Simpulan
Berdasarkan pembahasan, penelaahan, dan analisis data-data yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Potensi wisata yang terdapat di Kabupaten Jepara meliputi wisata alam, wisata bahari/pantai, wisata religi, wisata sejarah, wisata budaya, wisata sentra kerajinan, dan wisata agro serta kuliner.
2.      Penataan ruang kawasan wisata di Kabupaten Jepara disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi geografisnya, sehingga dibagi menjadi empat Kawasan Pengembangan Pariwisata (KPP) yaitu: KPP-A berupa kawasan Kepulauan Karimunjawa, KPP-B berupa kawasan pesisir, KPP-C berupa kawasan daratan tengah, dan KPP-D berupa kawasan pegunungan.
3.      Relevansi tourism education dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara sangatlah erat, karena semua lokasi wisata yang ada dapat digunakan sebagai media sekaligus sumber pembelajaran yang tepat, khususnya untuk pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning) dengan tetap menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning).
4.      Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan sinergisitas penataan ruang kawasan wisata dengan pembelajaran Geografi SMA di Kabupaten Jepara setidaknya menyentuh dua komponen penting yaitu institusi pendidikan serta pemerintah daerah. Institusi pendidikan setidaknya melibatkan guru dan siswa, sedangkan institusi pemerintah daerah setidaknya melibatkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

5.1  Saran
Beberapa saran di bawah ini, tidak terlepas dari sasaran penulisan makalah yaitu mampu menyentuh empat sasaran utama sehingga mampu memunculkan dampak positif serta efektif. 
1.      Civitas akademika SMA Negeri 1 Mayong Kabupaten Jepara, marilah kita bersama senantiasa berupaya memperbaiki kualitas pembelajaran yang diselenggarakan, sehingga kita mampu berkontribusi dalam upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” serta menyiapkan generasi mendatang yang hidup dan kehidupannya lebih baik.
2.      Guru Geografi (khususnya SMA) di Kabupaten Jepara, marilah kita fungsikan forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai wadah untuk berdiskusi, curah gagasan, mengasah keterampilan, serta meningkatkan kemauan dan kemampuan guru sehingga terwujud pembelajaran Geografi yang mampu “membentuk karakter bangsa”.
3.      Jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara, dalam hal ini yang terkait dengan tourism education melalui pembelajaran Geografi SMA, yaitu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Kemauan untuk bersikap lebih pro aktif menyerap aspirasi dari masyarakat, kemudian menindaklanjutinya dengan memberikan kemudahan akses serta melayani masyarakat dengan baik, tentunya akan mengokohkan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah sehingga “memudahkan tercapainya tujuan pembangunan berupa peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup”.
4.      Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu institusi terpercaya yang melahirkan para geograf profesional di Indonesia, seyogyanya memberikan perhatian yang lebih serius terhadap upaya peningkatan kualitas guru-guru Geografi di Indonesia, sehingga pembelajaran Geografi pada akhirnya mampu “melahirkan para geograf muda yang handal dan profesional”.

Makalah ini diikutkan pada Seminar Guru dalam rangkaian 
Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2010


DAFTAR PUSTAKA

Soemarwoto, O. (1999). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.

Saptorini, P. (2006). Studi Kesesuaian Medan Pantai Logending Sebagai Objek Wisata di Kawasan Pantai Selatan Kebumen. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jepara. (2008). Draft Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jepara Tahun 2009-2029.

Gunawan, T. (2008). Peran Guru Geografi dalam Membentuk Geograf Muda. Makalah pada Seminar Guru dalam rangkaian Olimpiade Geografi Nasional Tingkat SMA Tahun 2008 di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rijanta. (2008). Mencetak Geograf Muda yang Handal. Makalah pada Seminar Guru dalam rangkaian Olimpiade Geografi Nasional Tingkat SMA Tahun 2008 di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Worosuprodjo, S., dan Marfai, M.A. (2008). Interpretasi Citra Untuk Perencanaan Tata Ruang. Makalah pada Diklat Pengolahan Data Spasial Kebumian Untuk Aparatur Pemerintah Daerah Jawa Tengah di LIPI-Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, Kebumen.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jepara. (2009). Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Kabupaten Jepara 2010-2019.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara. (2009). Jepara Dalam Angka 2008.

Saptorini, P. (2009). Dokumen Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Geografi. Jepara: SMA N 1 Mayong.