Menjadi penting dalam catatan akhir tahun ini, sebagai sebuah bentuk instrospeksi atau dengan istilah lain muhasabah diri, sikap untuk saling memaafkan. Setiap kita tentunya menginginkan catatan akhir dalam buku kehidupan kita diisi dengan kebaikan, tanpa ada dendam atau pun kebencian yang tersisa. Namun, bagaimana caranya? Sementara sebagai manusia biasa, wajarlah bila ada silap kata atau pun tingkah laku yang menggoreskan luka. Ya, kita perlu waktu untuk bicara dengan hati kecil kita, menimbang seberapa pantas kita membiarkan penyakit-penyakit hati itu menggerogoti keimanan kita.
Bismillah, niatkan untuk mencari ridho-Nya saja, kita ikhlaskan semua duka lara karena ucapan atau pun sikap orang lain yang telah melukai relung hati kita. Kembalikan semua pada Allah SWT, perbanyak istighfar, dan insya Allah debu-debu yang mengerak dalam hati akan sirna. Cukuplah janji Allah bahwa di hari akhir nanti Dia akan memaafkan kesalahan dan dosa kita, menjadi jaminan yang lebih dari cukup untuk kita. Insya Allah, banyak hal positif yang akan mengiringi kehidupan kita setelah sampai pada level ini.
Tak berhenti sampai di situ, di momen penghujung tahun ini, kita pun harus memohon maaf kepada siapa saja yang telah berinteraksi dengan kita, terutama keluarga, tetangga, dan teman sejawat. Sebagai harta yang paling berharga, dunia dan akhirat, maka keluarga harus kita utamakan permaafannya. Setelah itu, tetangga, sebagai orang terdekat kita, tentunya harus dimuliakan dan dimohonkan permaafannya. Nah, rekan sejawat, yang sehari-hari interaksi dengan kita, pastilah banyak peluang untuk terjadinya kesilapan, sehingga kepada mereka pun harus kita mohonkan permaafannya.
Masya Allah, dengan keikhlasan hati untuk memohon maaf dan juga memaafkan, niscaya jalan hidup kita akan terasa lebih tenang dan bahagia. Jika sudah demikian, apalagi yang dicari?







0 komentar:
Posting Komentar