ABSTRAK1)
Indonesia, disebabkan letak geologis,
astronomis, dan letak geografisnya, memiliki
ancaman bencana yang beragam. Tercatat data yang cukup panjang mengenai
rekaman bencana alam di Indonesia, termasuk jumlah korban jiwa maupun kerusakan
harta benda dan kerusakan alam yang ditimbulkannya. Faktanya, sering terjadi
pengulangan bencana. Jenisnya sama, tempat dan waktunya saja yang berbeda.
Bahkan, pada beberapa kejadian tercatat bencana yang sama jenis dan tempatnya.
Ironisnya, terkadang penyikapan atau pun penanganan terhadap bencana yang
berulang itu ternyata tidaklah lebih baik alias hampir sama dengan yang
sebelumnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan beragam kajian terhadap penanganan
bencana, salah satunya melalui disiplin ilmu Geografi. Berangkat dari ketiga
pendekatan Geografi yaitu pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks
wilayah, maka rekonstruksi daerah korban bencana dalam perspektif Geografi setidaknya
memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) berbasis ruang, (2) mempertimbangkan interaksi, interrelasi,
dan interdependensi antara komponen
fisik dan non fisik yang menyusun suatu wilayah, serta (3) memadukan konsep lintas sektoral dan lintas disiplin ilmu. Selain itu, juga diperlukan adanya
pendidikan kebencanaan baik dalam tataran formal maupun non formal.
Kata kunci:
rekonstruksi, bencana, perspektif Geografi
1) Peni Saptorini, SMA Negeri 1 Mayong Jepara
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang berada pada zona
tumbukan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia,
dan lempeng Pasifik, secara geologi memiliki ancaman intensitas bencana alam
yang cukup tinggi. Wujud bencana tersebut beragam, mulai dari gempa bumi baik
yang disebabkan aktivitas vulkanik maupun tektonik, tsunami, serta letusan
gunung berapi.
Tercatat data yang cukup panjang mengenai rekaman bencana alam
di Indonesia, termasuk jumlah korban jiwa maupun kerusakan harta benda dan
kerusakan alam yang ditimbulkan olehnya. Nampaknya, umur bencana alam itu setua
umur manusia penghuni bumi. Seiring berjalannya waktu, manusia pun berupaya
menyikapi bencana yang mengancamnya setiap saat, sehingga jumlah korban jiwa
maupun kerusakan lainnya dapat diminimalisasi.
Namun, penanganan bencana ternyata belum sejalan dengan usia
bencana alam itu sendiri. Faktanya, sering terjadi pengulangan bencana.
Jenisnya sama, tempatnya saja yang berbeda. Bahkan, pada beberapa kejadian
tercatat bencana yang sama jenis dan tempatnya. Waktunya saja yang berbeda. Ironisnya, terkadang penyikapan atau pun
penanganan terhadap bencana yang berulang itu ternyata tidaklah lebih baik
alias hampir sama dengan yang sebelumnya. Mengapa demikian?
Oleh karena itu, perlu dilakukan beragam kajian terhadap
penanganan bencana, salah satunya melalui disiplin ilmu Geografi. Hasil kajian
tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi yang efektif, positif dan
produktif, sekaligus berkelanjutan sehingga di masa-masa mendatang dampak
negatif bencana dapat diminimalisasi. Pun rekonstruksi yang dilakukan, mampu
memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang selama ini selalu muncul
setiap bencana itu melanda suatu daerah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
paparan pada latar belakang penyusunan makalah, maka masalah dalam makalah ini
dirumuskan sebagai berikut:
1) Apa
saja bencana yang mengancam Indonesia?
2) Bagaimana
konsep dan pelaksanaan penanganan bencana di Indonesia?
3) Bagaimana
konsep rekonstruksi daerah korban bencana dalam perspektif Geografi?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penyusunan
makalah ini antara lain:
1) Mengidentifikasi
bencana yang mengancam Indonesia.
2) Memahami
konsep dan pelaksanaan penanganan bencana di Indonesia.
3) Memahami
konsep rekonstruksi daerah korban bencana dalam perspektif Geografi.
Ada
pun manfaat yang dapat diambil melalui proses penyusunan makalah ini, antara
lain:
1) Menambah
pengetahuan mengenai ancaman bencana di Indonesia berikut konsep dan
pelaksanaan penanganannya.
2) Meningkatkan
keterampilan analisis menggunakan pendekatan Geografi, sekaligus mengelola
pembelajaran kontekstual.
3) Menumbuhkan
motivasi untuk menulis, dengan menyajikan tema-tema pembahasan yang relevan dan
aplikatif dalam kehidupan.
1.4 Sistimatika Penulisan
Makalah ini tebagi dalam lima bab, dan disajikan
dengan sistimatika penulisan sebagai berikut:
Bab 1 Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
1.2
Rumusan Masalah
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.4
Sistimatika Penulisan
Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi Bencana
dan Rekonstruksi
2.2 Jenis Bencana
2.3 Perspektif Geografi
Bab 3 Metode Penelitian
3.1 Pendekatan
Penelitian
3.2 Metode Pengumpulan
Data
3.3 Tahapan Penelitian
Bab 4 Hasil dan Pembahasan
4.1 Ancaman Bencana di
Indonesia
4.2 Data dan Penanganan Bencana di Indonesia
4.3 Rekonstruksi Daerah
Korban Bencana dalam Perspektif Geografi
Bab 5 Penutup
5.1 Simpulan
5.2 Saran
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Bencana dan Rekonstruksi
Istilah
bencana sudah tidak asing lagi bagi kita. Meskipun demikian, ketika ditanyakan
apakah bencana itu? Barangkali, sebagian di antara kita sulit untuk memberikan
batasannya. Oleh karena itu, perlu kita tinjau beragam definisi bencana, baik
secara gramatikal maupun leksikal sehingga kita memiliki persepsi yang sama
dalam memaknai bencana.
KBBI
cetakan 2001 halaman 131 mendefinisikan bencana sebagai sesuatu yang
menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan;
bahaya.
Carter,
1991 dalam Tim PSBA UGM, 2010: 89 mendefinisikan bencana sebagai peristiwa
alam, antropogenik, atau naturalantropogenik yang terjadi secara mendadak atau
progresif, yang menimbulkan dampak besar, sehingga masyarakat yang terkena atau pun yang terpengaruh harus
merespon dengan tindakan-tindakan yang luar biasa.
Bakornas
PBP, 2005 dalam Tim PSBA UGM, 2010: 89 mendefinisikan bencana sebagai suatu
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang terjadi secara mendadak disebabkan oleh
alam, manusia, atau kedua-duanya dengan menimbulkan dampak terhadap pola
kehidupan dan penghidupan, gangguan pada system pemerintahan yang normal, atau
kerusakan ekosistem, sehingga diperlukan tindakan darurat untuk menolong dan
menyelamatkan manusia dan lingkungannya.
UU
No. 24/2007 tentang penanggulangan bencana dalam Tim PSBA UGM, 2010: 89 mendefinisikan
bencana sebagai peristiwa atau serangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh
faktor alam atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis.
Ada
pun rekonstruksi, dalam KBBI (2001: 942), didefinisikan sebagai pengembalian
seperti semula; penyusunan (penggambaran) kembali.
Dengan
demikian, kedua istilah tersebut dalam makalah ini dapat disederhanakan
definisinya sebagai berikut:
1) Bencana
merupakan serangkaian peristiwa yang mengganggu kehidupan, baik karena faktor
alam, manusia, maupun kombinasi keduanya, yang pada umumnya menimbulkan dampak
negatif terhadap komponen di dalamnya, antara lain: trauma, kematian, kerusakan
sarana prasarana, serta kerusakan ekosistem.
2) Rekonstruksi
merupakan serangkaian upaya membangun kembali daerah yang menjadi korban
bencana sehingga pada akhirnya daerah tersebut memiliki fungsi atau pun kondisi
sebagaimana mulanya. Bahkan, jika memungkinkan dapat memberikan nilai lebih.
2.2. Jenis Bencana
UU No. 24/2007 tentang penanggulangan bencana
dalam Tim PSBA UGM, 2010: 89 mengelompokkan bencana atas dasar faktor
penyebabnya menjadi tiga jenis yaitu: bencana alam, bencana nonalam, dan
bencana sosial.
2.3 Perspektif Geografi
Dalam
menganalisis fenomena geosfer yang menjadi objek materialnya, Geografi memiliki
perspektif khusus yang membedakannya dengan disiplin ilmu yang lain. Perspektif
tersebut dikenal dengan istilah pendekatan, yang merupakan objek formal
Geografi.
Ada
tiga pendekatan dalam perspektif Geografi, yaitu:
1) Pendekatan
Keruangan (spatial approach)
Pendekatan
ini mengkaji fenomena geosfer dengan memperhatikan lokasi, distribusi dalam
ruang, serta interaksi dan interrelasinya.
2) Pendekatan
Kelingkungan (ecological approach)
Pendekatan
ini mengkaji fenomena geosfer dengan memperhatikan interaksi dan interrelasi
antara komponen fisik dengan non fisik.
3) Pendekatan
Kompleks Wilayah (regional complex)
Pendekatan
ini merupakan perpaduan pendekatan keruangan dengan pendekatan kelingkungan,
sehingga dalam analisisnya lebih kompleks dan menyeluruh.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penulis menggunakan pendekatan penelitian deksriptif
kualitatif, yang didasarkan pada ketiga pendekatan dalam kajian Geografi yaitu
pendekatan keruangan, kewilayahan, dan kompleks wilayah.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Data dalam makalah ini dikumpulkan melalui
metode studi pustaka dan dokumentasi, serta penelusuran data di internet.
3.3 Tahapan Penelitian
Penulisan makalah ini diawali dari
tahapan perumusan masalah, pemilihan
metode
penulisan, analisis dan pembahasan,
kemudian diakhiri dengan penarikan simpulan
sebagai jawaban dari rumusan masalah yang diajukan. Tahapan-tahapan tersebut dapat
digambarkan dalam diagram alir berikut:
Diagram 3.1
Tahapan
Penelitian
BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Ancaman Bencana di Indonesia
Indonesia, disebabkan letak
geologisnya yang merupakan zona pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu Lempeng
Eurasia, Lempeng Indo-Australia, serta Lempeng Pasifik, memiliki ancaman bencana alam seperti: gempa
tektonik, gempa vulkanik, letusan gunung api, tsunami, serta bencana ikutan
lainnya. Perhatikan gambar di bawah ini.
Geologi
Indonesia, Zona Pertemuan Tiga Lempeng Tektonik
Sumber: BMG,
2006
Ada
pun disebabkan letak astronomisnya, Indonesia yang menempati 60LU-110LS
dan 950BT-1410BT, memiliki ancaman bencana alam seperti:
badai tropis, musim kemarau berkepanjangan (El Nino), serta musim penghujan
berkepanjangan (La Nina).
Disebabkan
letak geografisnya, Indonesia yang berada di antara dua samudera yaitu Samudera
Pasifik dan Hindia serta dua benua yaitu Benua Asia dan Australia, juga
memiliki ancaman bencana sosial. Hal ini dimungkinkan dengan berkembangnya
kontak antar beragam etnis dengan budayanya yang beragam, sehingga pada akhirnya
bencana pun tidak dapat dihindarkan. Bentuk ancaman bencana sosial antara lain:
konflik sosial antar kelompok/komunitas masyarakat, serta teror atau ancaman
dari satu kelompok/komunitas terhadap kelompok/komunitas lainnya.
Gambar
4.2
Letak
Geografis Indonesia, pada Pertemuan Dua Samudera dan Dua Benua
Sumber: Encarta,
2009
Selain
itu, ancaman bencana juga muncul yang disebabkan kekeliruan dalam pengelolaan
sumberdaya alam. Beberapa bencana yang dimaksud, antara lain: banjir, rob,
tanah longsor, pencemaran, serta intrusi air laut. Tentu saja masih ada ancaman
bencana yang lain misalnya rayapan tanah, kebocoran pada instalasi pembangkit
listrik, serta bencana akibat kelalaian dalam proses ekplorasi barang tambang.
Dengan
demikian, bencana yang mengancam Indonesia dapat disimpulkan sebagaimana
ditampilkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1
Ancaman Bencana di Indonesia
No.
|
Jenis/Penyebab
|
Ancaman Bencana
|
1.
|
Alam
a. Letak geologis
b. Letak astronomis
|
Gempa
bumi, tsunami, letusan gunung api.
Badai
tropis, musim kemarau berkepanjangan (El Nino), musim penghujan
berkepanjangan (La Nina)
|
2.
|
Manusia/Sosial
|
Konflik
sosial berbasis SARA, serta teror atau ancaman dari satu kelompok terhadap
kelompok lainnya.
|
3.
|
Alam
dan Manusia
|
Banjir,
rob, tanah longsor, pencemaran, intrusi air alut, rayapan tanah, kebocoran
pada instalasi pembangkit listrik, kelalaian pada eksploitasi barang tambang.
|
Sumber: Hasil
Pengolahan, 2011
4.2 Data dan Penanganan Bencana di Indonesia
Sebagaimana
dipaparkan pada bagian sebelumnya, bahwa bencana yang mengancam Indonesia
sangatlah beragam. Karena keterbatasan kemampuan penyusun, maka dalam makalah
ini tidak disajikan data mengenai semua bencana yang pernah terjadi di
Indonesia, tetapi hanya disajikan data mengenai sebagian kecil bencana berikut
penanganannya.
Gempa Bumi dan Tsunami
Tabel
berikut menyajikan data bencana gempa bumi selama lima tahun.
Tabel 4.2
Gempa di Indonesia Tahun 2004-2009
No.
|
Tanggal
|
Keterangan
|
1.
|
6
& 7 Pebruari 2004
|
Gempa
6,9 dan 7,1 SR di Nabire Papua; 34 orang meninggal.
|
2.
|
12
Nopember 2004
|
Gempa
6 SR di Alor; 27 orang meninggal.
|
3.
|
26
Nopember 2004
|
Gempa
6,4 SR di Nabire Papua; 30 orang meninggal.
|
4.
|
26 Desember 2004
|
Gempa
9 SR dan tsunami di Aceh; 131.029 orang meninggal dan ribuan lainnya hilang.
|
5.
|
28
Maret 2005
|
Gempa
8,7 SR di Nias dan Simeuleue; 900 orang meninggal.
|
6.
|
27
Mei 2006
|
Gempa
6,2 SR di Yogyakarta; 3.000 orang meninggal.
|
7.
|
17
Juli 2006
|
Gempa
7,7 SR dan tsunami di Pangandaran; 600 orang meninggal.
|
8.
|
21
Januari 2007
|
Gempa
7,3 SR di Sulawesi; 4 orang meninggal.
|
9.
|
6
Maret 2007
|
Gempa
6,3 SR di Sumatera; 52 orang meninggal.
|
10.
|
12
September 2007
|
Gempa
8,4 SR di Padang; 25 orang meninggal.
|
11.
|
13
September 2007
|
Gempa
7,8 SR di Sumatera.
|
12.
|
2
September 2009
|
Gempa
7,3 SR di Tasikmalaya; 46 orang meninggal.
|
13.
|
19
September 2009
|
Gempa
6,4 SR di Bali.
|
14.
|
30
September 2009
|
Gempa
7,6 SR di Sumatera Barat; 529 orang meninggal.
|
15.
|
1
Oktober 2009
|
Gempa
7 SR di Jambi.
|
Sumber: answering.wordpress.com, 2009
Berdasarkan tabel tersebut, dapat
disimpulkan bahwa penanganan bencana gempa bumi khususnya dalam hal
minimalisasi korban jiwa, masih perlu diperbaiki. Bencana gempa bumi diserta
tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, belum mampu memberikan pelajaran berharga bagi
bangsa Indonesia untuk mengantisipasi bencana serupa kemudian menanganinya
dengan lebih baik. Pemahaman mengenai kondisi kegempaan di Indonesia
sebagaimana tergambar pada gambar 4.3 di
bawah ini, merupakan hal penting yang perlu diupayakan agar kita lebih siap
menyikapi bencana.
Gambar
4.3
Kondisi
Kegempaan di Indonesia
Sumber: USGS,
2003
Tentu saja banyak faktor penyebab dalam hal
ini, antara lain: gempa bumi merupakan bencana alam yang sulit diperkirakan
waktu dan tempat persisnya, kurang berfungsinya sistem peringatan dini,
kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam hal mitigasi serta evakuasi pada saat
bencana masih cukup rendah, serta lemahnya koordinasi dan sinergi antara
berbagai pihak yang menjadi pemegang kunci kebijakan.
Letusan Gunung Api
Sebaran gunung api di Indonesia terkait
erat dengan kondisi kegempaan. Dalam catatan wikipedia.org, ada 45 gunung api
di Indonesia, sebagaimana tertera pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3
Gunung Api di Indonesia
No.
|
Nama Gunung
|
No.
|
Nama Gunung
|
No.
|
Nama Gunung
|
1.
|
G.
Agung
|
16.
|
G.
Kawah Ijen
|
31.
|
G.
Rinjani
|
2.
|
G.
Argopuro
|
17.
|
G.
Kelimutu
|
32.
|
G.
Sago
|
3.
|
G.
Arjuno
|
18.
|
G.
Kelud
|
33.
|
G.
Salak
|
4.
|
G.
Barujari
|
19.
|
G.
Kerinci
|
34.
|
G.
Semeru
|
5.
|
G.
Batur
|
20.
|
G.
Krakatau
|
35.
|
G.
Sibayak
|
6.
|
G.
Bromo
|
21.
|
G.
Lawu
|
36.
|
G.
Sinabung
|
7.
|
G.
Bur ni Telong
|
22.
|
G.
Leuser
|
37.
|
G.
Singgalang
|
8.
|
G.
Ciremai
|
23.
|
G.
Karangetang
|
38.
|
G.
Sirung
|
9.
|
G.
Galunggung
|
24.
|
G.
Lokon
|
39.
|
G.
Soputan
|
10.
|
G.
Gamkonora
|
25.
|
G.
Lurus
|
40.
|
G.
Talamau
|
11.
|
G.
Gede
|
26.
|
G.
Mahameru
|
41.
|
G.
Talang
|
12.
|
G.
Guntur
|
27.
|
G.
Merapi
|
42.
|
G.
Tambora
|
13.
|
G.
Ibu
|
28.
|
G.
Merbabu
|
43.
|
G.
Tandikat
|
14.
|
G.
Ine Keke
|
29.
|
G.
Papandayan
|
44.
|
G.
Tangkuban Parahu
|
15.
|
G.
Iva
|
30.
|
G.
Raung
|
45.
|
G.
Welirang
|
Sumber: wikipedia.org
Gunung api tersebut tersebar mulai dari
Sumatera sampai Irian Jaya, baik di daratan maupun di perairan. Gunung Krakatau
yang pernah meletus pada tahun 1883 dan menimbulkan tsunami yang menyapu
sebagian pesisir Jawa Barat dan Lampung, merupakan contoh aktivitas gunung api
yang berada di bawah permukaan air laut.
Sayangnya, karena keterbatasan kemampuan
penyusun, dalam makalah ini belum dapat disajikan data mengenai letusan gunung
api berikut korban yang meninggal. Hanya saja, sekedar catatan, letusan Gunung
Merapi beberapa waktu lalu dapat dijadikan pelajaran berharga bahwa kita masih
harus banyak belajar mengantisipasi dan meminimalisasi dampak negatif bencana
letusan gunung api. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kondisi kegunungapian
di Indonesia juga menjadi penting agar di masa mendatang kita lebih siap
menyikapi bencana ini. Perhatikan gambar
di bawah ini yang menunjukkan sebaran gunung api di Indonesia berdasarkan
letusannya sejak tahun 1900.
Gambar
4.4
Sebaran
Gunung Api Aktif di Indonesia (sejak tahun 1900)
Sumber: USGS,
2001 dalam wikipedia.org
Ancaman bencana sosial ini memang tidak
dapat dilepaskan dari sejarah dan keragaman bangsa Indonesia itu sendiri.
Sumpah Pemuda tahun 1928 lalu, telah memunculkan tekad untuk bersatu dalam
keberagaman. Namum demikian, masyarakat Indonesia dalam dinamikanya telah
mengalami banyak perubahan, yang di antaranya disebabkan adanya interaksi
dengan masyarakat luar. Berbagai singgungan budaya memunculkan pergeseran
nilai-nilai asli bangsa ini, dan pada akhirnya beberapa ancaman bencana sosial
itu pun menjadi kenyataan. Oleh karena itu, perlu upaya memahamkan pentingnya
persatuan dan kesatuan dalam keragaman bangsa ini, agar di masa mendatang
ancaman bencana sosial dapat diminimalisasi.
Selain itu,
ancaman bencana yang disebabkan faktor alam dan manusia, juga perlu mendapatkan
perhatian serius. Terlebih mengingat
usia bumi yang makin tua, sementara laju pertambahan penduduk cenderung
meningkat, sehingga mau tidak mau terjadi peningkatan konsumsi sumberdaya alam
di Indonesia. Kekurangarifan dalam mengelola potensi sumberdaya alam, justru
memunculkan bencana seperti banjir, rob, tanah longsor, pencemaran, intrusi air
alut, rayapan tanah, kebocoran pada instalasi pembangkit listrik, serta beberapa bencana yang dijumpai pada eksploitasi
barang tambang.
4.3
Rekonstruksi Daerah Korban Bencana Bencana dalam Perspektif Geografi
Sebagaimana
dipaparkan pada bagian tinjauan pustaka, dalam mengkaji fenomena geosfer,
disiplin ilmu Geografi menggunakan tiga pendekatan yang membedakannya dengan
disiplin ilmu yang lain. Ketiga pendekatan tersebut meliputi pendekatan
keruangan (spatial approach), kelingkungan
(ecological approach), dan kompleks
wilayah (regional complex). Oleh
karena itu, dalam mengkaji rekonstruksi daerah korban bencana, perspektif yang
digunakan berangkat dari ketiga pendekatan tersebut.
Sebagaimana
dipaparkan pada bagian tinjauan pustaka, dalam makalah ini rekonstruksi didefinisikan
sebagai serangkaian upaya membangun kembali daerah yang menjadi korban bencana
sehingga pada akhirnya daerah tersebut memiliki fungsi atau pun kondisi
sebagaimana mulanya. Bahkan, jika memungkinkan dapat memberikan nilai lebih.
Berangkat
dari kedua terminologi tersebut, maka konsep rekonstruksi daerah korban bencana
dalam perspektif Geografi setidaknya meliputi hal-hal berikut ini:
1) Berbasis ruang,
dalam artian menggunakan pendekatan keruangan dengan menggunakan teknologi
penginderaan jauh dan SIG untuk mengasilkan
zonasi rawan bencana termasuk penataan kawasan pasca bencana.
2) Mempertimbangkan interaksi,
interrelasi, dan interdependensi antara
komponen fisik dan non fisik yang menyusun suatu wilayah,
dengan memperlakukan penduduk dan kearifan lokal setempat sebagai subjek.
3) Memadukan konsep lintas sektoral
dan lintas disiplin ilmu, dengan kesadaran penuh bahwa
disiplin ilmu Geografi tidak mampu melakukan rekonstruksi daerah korban bencana
kecuali apabila disinergikan dengan disiplin ilmu yang lain. Geografi lebih
berperan dalam perencanaan, sedangkan disiplin ilmu lain yang sifatnya teknis
akan lebih tepat berperan dalam tahap pelaksanaan.
Pada akhirnya, rekonstruksi daerah korban
bencana akan mengikuti siklus manajeman yang meliputi planning, organizing, actuating, controlling. Keempat aspek
tersebut harus didukung dengan kepemimpinan yang efektif, koordinasi dan
sinergi dari semua stakeholder,
sehingga bencana dapat disikapi dengan tepat. Begitu pula rekonstruksi daerah
korban bencana, hendaknya berakar pada kebutuhan masyarakat setempat dan
kearifan lokal yang sudah berkembang jauh sebelum bencana itu terjadi.
Selain
itu, dalam kaitannya dengan pembelajaran Geografi, maka hal yang tidak kalah
penting adalah perlunya memberikan pendidikan kebencanaan pada masyarakat.
Pendidikan kebencanaan ini tidak hanya diberikan secara formal, tetapi dapat
juga diberikan secara non formal. Masyarakat
sebaiknya diberikan pemahaman mengenai ancaman dan multirisiko bencana
yang ada di sekitar mereka. Pemahaman tersebut diharapkan memunculkan kesadaran
untuk belajar hidup serasi dengan lingkungan alamnya, sehingga mampu menyikapi
bencana dengan tepat. Pun ketika harus melakukan upaya rekonstruksi daerah
korban bencana.
Dalam
tataran pendidikan secara formal, diperlukan penataan kembali kurikulum
pendidikan di Indonesia, yang dinilai masih belum memberikan perhatian yang
proporsional pada pelaksanaan pendidikan kebencanaan. Muatan kurikulum yang
terlalu membebani anak didik, padahal relevansinya dalam kehidupan kurang
signifikan, hendaknya segera dikaji ulang agar bangsa ini tidak terlambat
menyadarkan generasi mudanya akan ancaman bencana dalam kehidupannya. Beberapa
negara yang memiliki kemiripan karakteristik kebencanaan seperti di Indonesia,
dapat dijadikan referensi bagaimana mereka memberikan pendidikan kebencanaan
pada warganya. Jepang salah satunya.
Pada
akhirnya, ketika pendidikan kebencanaan diberikan secara simultan baik pada
tataran formal maupun non formal, maka bolehlah kita berharap dan tersenyum
membayangkan bahwa di masa mendatang, generasi penerus bangsa ini akan mampu
menyikapi ancaman bencana dan melakukan penanganan bencana dengan tepat.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan
paparan pada bagian hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1) Bencana
yang mengancam Indonesia, menurut jenis/penyebabnya dapat dibedakan menjadi
tiga yaitu:
a. Bencana alam,
misalnya: gempa tektonik, gempa vulkanik, tsunami, badai tropis, musim kemarau
berkepanjangan (El Nino), serta musim
penghujan berkepanjangan (La Nina).
b. Bencana sosial,
misalnya: konflik sosial berbasis SARA, serta terror atau ancaman satu kelompok
terhadap kelompok lainnya.
c. Bencana alam dan manusia,
misalnya: banjir, rob, tanah longsor, pencemaran, intrusi air alut, rayapan
tanah, kebocoran pada instalasi pembangkit listrik, serta beberapa bencana yang dijumpai pada
eksploitasi barang tambang.
2) Konsep
dan pelaksanaan penanganan bencana di
Indonesia dinilai masih perlu diperbaiki karena catatan bencana di
Indonesia menunjukkan, beberapa kali terjadi pengulangan bencana yang sama jenisnya,
bahkan terkadang tempatnya pun sama, namun jumlah korban yang meninggal justru
bertambah.
3) Rekonstruksi
daerah korban bencana dalam perspektif Geografi berangkat dari tiga pendekatan
Geografi (keruangan, kelingkungan, kompleks wilayah), serta memiliki beberapa
karakteristik antara lain: berbasis ruang,
mempertimbangkan interaksi, interrelasi,
dan interdependensi antara komponen
fisik dan non fisik yang menyusun suatu wilayah, serta memadukan konsep lintas sektoral dan lintas
disiplin ilmu. Selain itu, juga diperlukan adanya pendidikan kebencanaan baik
dalam tataran formal maupun non formal.
5.2 Saran
Berdasarkan
simpulan makalah ini, maka saran yang diajukan sebagai penutup makalah ini,
antara lain:
1) Perlu
adanya penataan kembali pada muatan kurikulum pendidian formal di Indonesia
khususnya dalam pembelajaran Geografi, sehingga memberikan porsi yang
proporsional pada pendidikan kebencanaan.
2) Perlu
adanya kajian multidisipliner yang kemudian dikoordinasikan serta disinergikan
dengan berbagai stakeholder sehingga
penanganan bencana di Indonesia menjadi lebih tepat.
3) Pendidikan
kebencanaan perlu diberikan secara non formal, supaya terbangun pemahaman dan
kesadaran bersama mengenai ancaman bencana di Indonesia, berikut penyikapannya
yang tepat.
Makalah ini diikutkan dalam Seminar Guru dalam rangkaian kegiatan
Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2011
DAFTAR PUSTAKA
Tim
PSBA UGM. (2010). Penaksiran Multirisiko
Bencana di Wilayah Kepesisiran Parangtritis, Suatu Analisis Serbacukup untuk
Membangun Kepedulian Masyarakat Terhadap Berbagai Kejadian Bencana. Pusat
Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta
Tim
Redaksi (2009). Politik Bumi dan
Manajemen Bencana. Jurnal “Dialog” Kebijakan Publik Edisi I/Juni/Tahun
II/2008: Departemen Komunikasi dan Informatika, diakses pada tanggal 11
Desember 2010 melalui situs http://blogs.depkominfo.go.id
Effendi, Sofian. (tanpa tahun). Rekonstruksi Daerah Bencana Tsunami Harus
Didahului Rekonsiliasi. Artikel, diakses pada tanggal 11 Desember 2010
melalui
situs http://sofian.staff.ugm.ac.id
Arfiadi,
Yoyong, Wiryawan Sarjono, dan Lucida. (2008). Permasalahan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Gempa 27 Mei 2006 di
Yogyakarta dan Jawa Tengah. Makalah pada Konferensi Nasional Teknik Sipil 2
(KonTeks 2) Universitas Atma Jaya: Yogyakarta, diakses pada tanggal 18 Desember
2010 melalui situs http://aariansyah.files.wordpress.com
Alihar,
Fadjri. (2008). Partisipasi Masyarakat
dalam Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Pasca Bencana. Publikasi artikel
Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, diakses pada tanggal 11 Desember 2010
melalui situs http://know.brr.go.id
Westover,
Nick. (tanpa tahun). Pelajaran-Pelajaran
dari Pengalaman Rekonstruksi Pasca Bencana. Publikasi artikel Canadian
International Development Agency (ICDA) atas nama Pemerintah Kanada, diakses
pada tanggal 11 Desember 2010 melalui situs http://www.cowater.com
Yudhoyono,
Susilo Bambang. (2005). Instruksi Presiden
Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005 Tentang Kegiatan Tanggap Darurat dan Perencanaan serta Persiapan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Alam Gempa Bumi dan Gelombang
Tsunami di Proviinsi Naggroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara. Dokumen
Undang-Undang: Jakarta, diakses pada tanggal 11 Desember 2010 melalui situs http://www.presidenri.go.id
Yasa,
Praditya Mahendra. (2010). Program
Pendidikan Bencana Perlu Masuk Kurikulum. Artikel Kompas cyber media hari Senin,
22 Maret 2010: Jakarta, diakses pada tanggal 18 Desember 2010 melaui situs
http://sains.kompas.com
Kompas.com.
Pendidikan Bencana Sangat Minim.
Artikel Kompas cyber media hari Jumat, 4 September 2009: Jakarta, diakses pada
tanggal 18 Desember 2010 melalui situs http://www.ykai.net
Yasa,
Praditya Mahendra. (2010). Pendidikan Siaga
Bencana, Tinjau Ulang Kurikulum Kemendiknas. Artikel Kompas cyber media hari Jumat, 5
Nopember 2010: Jakarta, diakses pada tanggal 18 Desember 2010 melalui situs http://sains.kompas.com
AD,
Bramastyo. (2010). Pendidikan Siaga
Bencana, Kesiagaan Harusnya Didesain Khusus. Artikel Kompas cyber media dan
tribunnews.com hari Jumat, 5 Nopember 2010: Jakarta, diakses pada tanggal 18
Desember 2010 melalui situs http://sains.kompas.com
Aulia,
Luki. (2010). Pendidikan Siaga Bencana,
Bencana dan Kreativitas Guru-Guru Kita. Artikel Kompas cyber media hari
Jumat, 5 Nopember 2010: Jakarta, diakses pada tanggal 18 Desember 2010 melalui
situs http://sains.kompas.com
Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. (2001). Jakarta: Balai Pustaka











0 komentar:
Posting Komentar