Home

Rabu, 18 Maret 2020

Mencermati Pengelolaan Tanaman Tebu dan Eksistensi Industri Gula di Indonesia Menuju Tatanan Pembangunan Berkelanjutan


ABSTRAK

           Sebagian besar penduduk Indonesia bergantung pada sektor agraris. Salah satunya, berkaitan dengan budidaya tanaman tebu berikut pemanfaatannya sebagai bahan baku pembuatan gula. Pada zaman penjajahan Belanda, areal penanaman tebu diperluas dengan adanya perkebunan-perkebunan sekaligus pembangunan pabrik gula. Seiring laju pertambahan penduduk, maka kebutuhan gula pun terus bertambah. Apakah peluang ini ditangkap oleh para petani tebu dan pelaku industri gula di Indonesia, sehingga pada akhirnya pengelolaan tanaman tebu berikut eksistensi industri gula di Indonesia selaras dengan tatanan pembangunan berkelanjutan?


Kata kunci: agraris, tanaman tebu, industri gula, pembangunan berkelanjutan



Mengenal Tanaman Tebu

            Tanaman tebu (Sachirum officinarum L), diduga berasal dari sekitar Sungai Gangga, India. Tanaman tahunan ini tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) kemiringan lereng agak curam, yaitu 15-20% dan agak peka terhadap erosi; (2) kisaran suhu 25-260C; (3) curah hujan sedang, rata-rata 100 cm per tahun; serta (4) kelembapan yang rendah.
            Perawatan tanaman tebu relatif mudah, mulai dari tahap pemupukan, penyiraman, pembumbunan, sampai pada tahap penyulaman. Ada pun pemanfaatannya, dalam essai ini, difokuskan pada pemanfaatan tanaman tebu sebagai bahan baku industri gula. Industri gula yang berkembang ternyata ada dua jenis, yaitu yang mengolah tebu menjadi gula pasir serta yang mengolah tebu menjadi gula merah. Industri gula pasir pada umumnya merupakan industri berskala besar, sedangkan industri gula merah umumnya merupakan industri berskala kecil.  Selain itu, ada pula produk sampingan dari gula pasir atau pun gula merah, seperti penyedap rasa, spiritus, bahkan ampas dari tebu yang digiling pun dapat diolah menjadi pupuk organik atau pun bahan bakar.
Tanaman Tebu dan Industri Gula di Indonesia
           
            Keberadaan tanaman tebu dan industri gula di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari fakta sejarah. Pemerintahan kolonial Belanda yang menjajah Indonesia hampir 3,5 abad lamanya memberikan jasa berupa pembukaan beberapa kawasan terutama di Pulau Jawa untuk dijadikan areal perkebunan tebu. Kemudian, tidak jauh dari lokasi perkebunan, disediakan pula tempat pengolahannya yang kita kenal sekarang dengan nama Pabrik Gula (PG). beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, merupakan pusat-pusat perkebunan tebu sekaligus lokasi pabrik gula.
            Tahun 1930-an, tercatat 179 pabrik gula yang beroperasi di Indonesia dan mereka mampu mengekspor hingga 3 juta ton. Sayangnya, pada periode 1991-2001 industri gula di Indonesia mengalami keterpurukan. Beberapa faktor penyebab keterpurukan tersebut antara lain: penurunan efisiensi pada tingkat usaha tani dan pabrik gula, penurunan kuantitas produksi dalam negeri, kebijakan pemerintah yang kurang memihak sektor pertanian atau pun kebijakan pergulaan, serta peningkatan jumlah gula impor yang masuk ke Indonesia.
            Untunglah, dalam kurun waktu sepuluh tahun berikutnya, muncul kesadaran untuk menggiatkan kembali perkebunan tebu berikut produktivitas gula dalam negeri. Perhatian pemerintah, maupun masyarakat terhadap sektor agraris perlahan mulai membaik. Apalagi didukung dengan turut andilnya kalangan swasta serta akademisi, yang memberikan sumbangan investasi dan kajian-kajian ilmiah terhadap tanaman tebu serta industri gula, maka tidak berlebihan jika kemudian pemerintah mencanangkan program Swasembada Gula Tahun 2014.
            Program swasembada gula ini sepertinya bukan sekedar program, melainkan sebuah rencana matang yang diimbangi langkah-langkah nyata. Selama periode 2000-2009, telah terjadi penambahan luas areal penanaman tebu dengan angka pertumbuhan per tahun mencapai 3,75%. Data tahun 2000 menunjukkan luas areal hanya 340.660 Ha, dan pada tahun 2009 telah menunjukkan angka 473.831 Ha. Ada pun tahun 2010, diperkirakan mencapai angka 478.206 Ha.
            Kemudian, untuk merealisasikan program swasembada gula, pemerintah juga telah mengalokasikan penambahan luas areal perkebunan tebu yang pada tahun 2011 ini mencapai 422.935 Ha dan pada tahun 2014 nanti mencapai 766.613 Ha. Perluasan areal perkebunan dilakukan dengan memanfaatkan hutan produksi, lahan hak guna usaha yang ditelantarkan, atau pun lahan milik Perhutani dengan pola penanaman tumpangsari. Data mengenai perluasan areal penanaman tebu tersebut akan lebih mudah ketika dicermati pada grafik di bawah ini.

Sumber: datacon.co.id, ilustrasi sendiri, 2011

Perkembangan Perkebunan Tebu di Indonesia
            Setidaknya, terdapat tiga jenis perkebunan tebu di Indonesia, yaitu perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta, dan perkebunan swasta negara. Pada tahun 2009, dari total lahan perkebunan tebu seluas 443.832 Ha, sekitar 255.513 Ha (57,6%) merupakan perkebunan rakyat, sedangkan perkebunan besar swasta hanya seluas 108.450 Ha (24,4%) dan perkebunan besar negara hanya seluas 80.069 Ha (18%).

            Selama periode 2000-2009, laju pertumbuhan luas areal perkebunan tebu pada perkebunan besar swasta hanya mencapai 0,9% per tahun sedangkan pada perkebunan rakyat mencapai 4,7% per tahun dan pada perkebunan besar negara mencapai 3,3% per tahun. Data mengenai luas areal ketiga jenis perkebunan tebu tersebut, disajikan pada grafik di bawah ini.

Sumber: datacon.co.id, ilustrasi sendiri, 2011

Eksistensi Industri Gula di Indonesia
            Program Swasembada Gula 2014 yang dicanangkan pemerintah sangat membantu upaya mempertahankan eksistensi industri gula di Indonesia. Bahkan, dengan perluasan areal perkebunan tebu hingga ke wilayah lain di luar Pulau Jawa mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepualuan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga Merauke, maka diharapkan industri gula di tanah air akan menggeliat kembali, memberikan prospek yang menjanjikan bagi para petani tebu dan karyawan pabrik gula khususnya, serta mereka-mereka yang secara tidak langsung mendapatkan manfaat dari keberadaan industri gula.
Kontribusi Geografi
            Pembelajaran Geografi di SMA memiliki keterkaitan erat dengan upaya pengelolaan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan. Pembelajaran di kelas X memberikan pemahaman tentang litosfer, pedosfer, dan atmosfer. Apabila disesuaikan dengan pembahasan dalam essai ini, maka siswa memiliki pemahaman berkaitan dengan prasyarat budidaya tanaman tebu, setidaknya meliputi kondisi iklim dan tanahnya. Pembelajaran di kelas XI memberikan  pemahaman tentang sumberdaya alam, pengelolaan dan pelestarian lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan. Apabila disesuaikan dengan pembahasan dalam essai ini, maka siswa dapat memahami bahwa tanaman tebu merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dan dilestarikan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan memperhatikan aspek keberlanjutannya bagi generasi mendatang. Ada pun pembelajaran di kelas XII, memberikan pemahaman tentang industri. Apabila disesuaikan dengan pembahasan dalam essai ini, maka siswa dapat memahami proses serta menganalisis keberadaan industri gula di Indonesia.
            Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Geografi mampu memberikan pemahaman dan memotivasi siswa untuk mengenali potensi sumberdaya alam di sekitar, kemudian mengelolanya secara berkelanjutan.


Essai ini diikutkan pada Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2011 
Imroatus Sholihah dan Ilma Shofiana, SMAN 1 Mayong Jepara
Pembimbing: Peni Saptorini
  
DAFTAR PUSTAKA

Anjayani, Eni dan Tri Haryanto. (2009). Geografi Kelas XI SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Sutardjo, R.M. Edhi. (1996). Budidaya Tanaman Tebu. Jakarta: PT Bumi Aksara
Priyadi, Wahyu Setya Graha. (2007). Teori Ringkas, Latihan Soal dan Pembahasan Geografi SMA Kelas X, XI, XII Siap UN, UM UGM, SPMB, dan Seleksi PTN Mandiri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Harahap, Marah Uli dan Asep Mulyadi. (2004). Geografi SMA 2. Jakarta: Esis
http://pse.litbang.go.id//diakses tanggal 26 Januari 2011

0 komentar:

Posting Komentar