Home

Kamis, 12 Maret 2020

Peluang Emas Indonesia Melalui Bali Roadmap untuk Memperlambat Laju Pemanasan Global

ABSTRAK

Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan hujan tropis terluas di dunia memberikan kontribusi bagi penyediaan O2 dan pemeliharaan iklim global. Namun, penelitian internasional yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk dalam lima besar negara emitor gas rumah kaca di dunia justru memunculkan sebuah dilema. Dewasa ini, dampak pemanasan global telah merajalela, menjangkau hampir seluruh wilayah di bumi ini. Suhu permukaan global yang akan meningkat 1,5-4°C antara tahun 1990-2100 menantang kita untuk segera mengambil langkah. Bali Roadmap sebagai hasil utama dari UNCCC (The United Nations Climate Change Conference) yang diselenggarakan di Bali, 11-15 Desember 2007 lalu, mengatur tentang langkah-langkah aksi adaptasi, jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, serta transfer teknologi dan keuangan yang meliputi adaptasi dan mitigasi. Hal ini rupanya membuka peluang emas bagi Indonesia untuk dapat lebih berkontribusi bagi dunia dalam mengurangi laju pemanasan global.


Kondisi Indonesia
Kawasan tropis pada umumnya memiliki keragaman potensi hutan  berupa hutan hujan tropis, hutan musim tropis, dan hutan mangrove. Indonesia sebagai salah satu negara tropis memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa, dan di dalamnya terdapat 12% spesies binatang mamalia, 16% spesies binatang reptil dan ampibi, serta 25% spesies ikan yang ada.
Sayangnya, pada saat ini 72% hutan di Indonesia telah musnah (World Resource Institute, 1997). Hal tersebut menempatkan Indonesia msebagai slaah satu negara dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Luas hutan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, dan hal itu bersamaan dengan peningkatan titik api akibat kebakaran hutan. Berikut ini disajikan grafik penurunan luas hutan dan peningkatan jumlah titik api di Indonesia.
  

 Sumber : Departemen ESDM

Pemerintah Indonesia rupanya kurang memperhatikan pengeluaran emisi gas yang terjadi tiap tahunnya. Pada tahun 2000, Indonesia tidak termasuk dalam sepuluh besar negara emitor tertinggi. Akan tetapi, pada saat ini Indonesia ternyata telah masuk dalam lima besar negara emitor tertinggi di dunia. Emisi gas karbon tersebut sebagain besar bukan berasal dari aktivitas industri sebagaimana terjadi di negara maju, melainkan dari kebakaran hutan. Kawasan hutan yang sering mengalami kebakaran bahkan dapat dikatakan hampir tiap tahun, adalah hutan yang berada di areal lahan gambut. Selain itu, penyebab emisi gas yang lainnya adalah akibat kurang efisiennya pemakaian listrik dan bahan bakar fosil.
Kebijakan pemerintah memajukan sektor perindustrian di Indonesia dengan mengizinkan pembukaan hutan untuk mendukung sektor tersebut, hendaknya diikuti dengan perbaikan pada bidang lain misalnya penguatan kontrol dari pemerintah, kejelasan regulasi tentang daerah konservasi, intensifnya pembinaan dan penyuluhan tentang lingkungan hidup.
Apabila hal tersebut tidak dapat diwujudkan, maka laju pengrusakan hutan akan semakin cepat dan penyusutan areal hutan pun akan terjadi dengan cepat pula. Kondisi tersebut akan semakin mempercepat laju pemanasan global. Pada akhirnya, pemanasan global akan memicu pencaiaran es abadi di puncak pegunungan dan di kutub. Pencairan es tersebut akan berujung dengan penenggelaman sebagian massa daratan akibat pertambahan volume air laut. Akibat lain tentu saja masih banyak, antara lain: meluasnya kawasan gurun pasir; meningkatnya intensitas banjir; berubahnya tatanan iklim global; punahnya flora dan fauna tertentu; terganggunya fungsi kawasan pesisir; terganggunya sarana dan prasarana berupa jaringan jalan, pelabuhan, bandara; terganggunya permukiman penduduk; berkurangnya produktivitas lahan pertanian; serta meningkatnya resiko kanker dan wabah penyakit. Semua itu tidak hanya dirasakan oleh penduduk Indonesia, tetapi oleh seluruh penduduk di muka bumi.

Kemitraan Global dan Peluang Emas Indonesia Untuk Memperlambat Laju Pemanasan Global
Hanya ada satu bumi, tetapi ada dua pilihan, membiarkan anak cucu kita kehabisan sumber daya, atau bergerak menyelamatkannya dari sekarang! Memperlambat laju pemanasan global tidak akan mampu dilakukan secara parsial, tetapi harus dilakukan secara spasial dengan langkah-langkah yang seragam dan serentak dari seluruh penduduk di muka bumi. Dengan kata lain, diperlukan kemitraan  global yang melibatkan penduduk di belahan bumi utara dan belahan bumi selatan untuk memperlambat laju pemanasan global. Kemitraan tersebut dikuatkan secara hukum dengan ditandatanginya kesepakatan-kesepakatan internasional untuk memperlambat laju pemanasan global.
Salah satu kesepakatan internasional yang menjadi peluang emas Indonesia untuk memperlambat laju pemanasan global adalah kesepakatan pada pertemuan internasional salah satu badan PBB yaitu The United Nations Climate Change Conference (UNCCC). Pertemuan yang diselenggarakan di Bali (2007) itu dihadiri 189 negara dan 330 LSM dan menghasilkan kesepakatan utama berupa Bali Roadmap.
Negara maju dan negara berkembang memiliki keterwakilan di dalamnya, dan konferensi tersebut dianggap memiliki keberhasilan yang ditunjukkan adanya kesanggupan negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Kanada dalam pengurangan emisi gas sebesar 25-40%.
Bagi Indonesia, Bali Roadmap membuka peluang emas untuk memperlambat laju pemanasan global karena tiga hal berikut:
  1. Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (Reducing Emission from Deforestation and Degradation/REDD)
REDD memberikan mekanisme yang adil antara negara pemilik hutan tropis dengan negara maju. Negara pemilik hutan tropis bertanggungjawab menjaga hutannya untuk menyerap emisi karbon dari negara maju sedangkan negara maju memberikan bantuan dana kepada negara pemilik hutan tropis tersebut. REDD memfokuskan pada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah pengurangan emisi dari deforestasi.
  1. Transfer Teknologi (Technology Transfer)
Negara maju akan memulai program strategis untuk memfasilitasi teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negara berkembang. Tujuan program ini adalah memberikan contoh proyek yang nyata, menciptakan lingkungan investasi yang menarik, dan memberikan insentif kepada sektor swasta untuk melakukan alih teknologi.
  1. Rencana Adaptasi (Adaptation Plan)
Adanya dana adaptasi bagi negara berkembang. Sebagai contoh,  karena banyaknya jumlah proyek Clean Development Mechanism (CDM), dana yang semula hanya 37 juta euro (+ 592 Milyar rupiah) bertambah menjadi US$ 80-300 juta pada  periode 2008-2012.
Indonesia telah mendapat bantuan kerja sama dari Inggris sebesar US$ 500.000 untuk mendukung program Indonesia Forest Climate Alliance  dan memberikan komitmen US$ 10 juta untuk mendukung multistakeholder forestry program.

Apa Yang Harus Kita Lakukan?
            Pemerintah seharusnya segera memanfaatkan peluang emas tersebut dengan mengambil langkah dan kebijkaan strategis. Contohnya, National Action Plan dijadikan hal yang legal dan memiliki kekuatan hukum, sosialisasi langkah-langkah kongkret untuk memperlambat laju pemanasan global berupa penetapan daerah-daerah perlindungan, penggalakan program-program ramah lingkungan seperti konversi gas, penghematan energi listrik, pengurangan pemakaian AC, serta pemberian tindak lanjut dan dukungan Bali Roadmap agar diratifikasi pada tahun 2009 dalam konferensi internasional PBB di Kopenhagen, Denmark.
Masyarakat pun seharusnya melakukan kontrol sosial berkaitan dengan penebangan liar, pembukaan area hutan secara ilegal, dan penyelundupan kayu.  Selain itu, masyarakat pun hendaknya memilih bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, misalnya pada level rumah tangga memilih gas yang menghasilkan 15,3 ton C/TJ* daripada minyak tanah yang menghasilkan 19,6 ton C/TJ* atau pun kayu bakar yang menghasilkan 29,9 ton C/TJ*.
Pembelajaran Geografi dapat dijadikan sebagai media yang cukup efektif untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana kita menjaga dan menyelamatkan bumi ini. Geografi sebagai ilmu keruangan dengan seluruh cabang ilmu yang dimilikinya baik Geografi Fisik, Manusia, maupun Tehnik, mampu memberikan analisa yang tepat berikut solusi untuk mengatasi permasalahan global, satu di antaranya mengenai cara untuk memperlambat laju pemanasan global.
Jadi, berawal dari potensi alam dan manusia Indonesia, didukung dengan adanya kesepakatan internasional berupa Bali Roadmap dan kesadaran bersama dari seluruh manusia di muka bumi ini, marilah kita melakukan tindakan nyata untuk memperlambat laju pemanasan global. Indonesia, it’s time to take action!
*Carbon/Terra Joule
Essai ini telah dipresentasikan pada Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2009
oleh Putri Pamulani & Zakia Nurus Syifa'
Pembimbing: Peni Saptorini



Daftar Pustaka
-----------. 2007. Pemanasan Global, (Online), (www.geo.ugm.ac.id, diakses Sabtu, 17 Januari 2009, Pukul 14.30 WIB).

-----------. 2009. Hutan, (Online), (www.wikipedia.org, diakses Kamis, 15 Januari 2009, Pukul 15.00 WIB).

Liem. Hutan Indonesia Menjelang Kepunahan, (Online), (www.walhi.or.id, diakses Kamis, 15 Januari 2009, Pukul 15.00 WIB)

H., Marah Uli dan Asep Mulyadi. 2007. Geografi untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis.

Udayanti, Atik, dkk.. 2003. Geografi untuk SMA Kelas X . Bekasi: Galaxy Puspa Mega.

Regariana, Cut Meurah, Wangsa Jaya, dan Yuli Katarina. 2006. Geografi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Phibeta Aneka Gama.


0 komentar:

Posting Komentar