ABSTRAK
Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan
hujan tropis terluas di dunia memberikan kontribusi bagi penyediaan O2
dan pemeliharaan iklim global. Namun, penelitian internasional yang menyebutkan
bahwa Indonesia termasuk dalam lima besar negara emitor gas rumah kaca di dunia
justru memunculkan sebuah dilema. Dewasa ini, dampak pemanasan global telah
merajalela, menjangkau hampir seluruh wilayah di bumi ini. Suhu permukaan
global yang akan meningkat 1,5-4°C antara tahun 1990-2100 menantang kita untuk
segera mengambil langkah. Bali Roadmap sebagai hasil utama dari UNCCC (The
United Nations Climate Change Conference) yang diselenggarakan di Bali, 11-15
Desember 2007 lalu, mengatur tentang langkah-langkah aksi adaptasi, jalan
pengurangan emisi gas rumah kaca, serta transfer teknologi dan keuangan yang
meliputi adaptasi dan mitigasi. Hal ini rupanya membuka peluang emas bagi
Indonesia untuk dapat lebih berkontribusi bagi dunia dalam mengurangi laju pemanasan
global.
Kondisi Indonesia
Kawasan tropis
pada umumnya memiliki keragaman potensi hutan
berupa hutan hujan tropis, hutan musim tropis, dan hutan mangrove. Indonesia
sebagai salah satu negara tropis memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih
tersisa, dan di dalamnya terdapat 12% spesies binatang mamalia, 16% spesies
binatang reptil dan ampibi, serta 25% spesies ikan yang ada.
Sayangnya, pada
saat ini 72% hutan di Indonesia telah musnah (World Resource Institute,
1997). Hal tersebut menempatkan Indonesia msebagai slaah satu negara dengan
tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Luas hutan terus mengalami
penurunan dari tahun ke tahun, dan hal itu bersamaan dengan peningkatan titik
api akibat kebakaran hutan. Berikut ini disajikan grafik penurunan luas hutan
dan peningkatan jumlah titik api di Indonesia.
Sumber : Departemen ESDM
Pemerintah
Indonesia rupanya kurang memperhatikan pengeluaran emisi gas yang terjadi tiap
tahunnya. Pada tahun 2000, Indonesia tidak termasuk dalam sepuluh besar negara
emitor tertinggi. Akan tetapi, pada saat ini Indonesia ternyata telah masuk dalam
lima besar negara emitor tertinggi di dunia. Emisi gas karbon tersebut sebagain
besar bukan berasal dari aktivitas industri sebagaimana terjadi di negara maju,
melainkan dari kebakaran hutan. Kawasan hutan yang sering mengalami kebakaran
bahkan dapat dikatakan hampir tiap tahun, adalah hutan yang berada di areal
lahan gambut. Selain itu, penyebab emisi gas yang lainnya adalah akibat kurang
efisiennya pemakaian listrik dan bahan bakar fosil.
Kebijakan pemerintah
memajukan sektor perindustrian di Indonesia dengan mengizinkan pembukaan hutan untuk
mendukung sektor tersebut, hendaknya diikuti dengan perbaikan pada bidang lain
misalnya penguatan kontrol dari pemerintah, kejelasan regulasi tentang daerah konservasi,
intensifnya pembinaan dan penyuluhan tentang lingkungan hidup.
Apabila hal
tersebut tidak dapat diwujudkan, maka laju pengrusakan hutan akan semakin cepat
dan penyusutan areal hutan pun akan terjadi dengan cepat pula. Kondisi tersebut
akan semakin mempercepat laju pemanasan global. Pada akhirnya, pemanasan global
akan memicu pencaiaran es abadi di puncak pegunungan dan di kutub. Pencairan es
tersebut akan berujung dengan penenggelaman sebagian massa daratan akibat
pertambahan volume air laut. Akibat lain tentu saja masih banyak, antara lain: meluasnya
kawasan gurun pasir; meningkatnya intensitas banjir; berubahnya tatanan iklim
global; punahnya flora dan fauna tertentu; terganggunya fungsi kawasan pesisir;
terganggunya sarana dan prasarana berupa jaringan jalan, pelabuhan, bandara; terganggunya
permukiman penduduk; berkurangnya produktivitas lahan pertanian; serta meningkatnya
resiko kanker dan wabah penyakit. Semua itu tidak hanya dirasakan oleh penduduk
Indonesia, tetapi oleh seluruh penduduk di muka bumi.
Kemitraan Global dan Peluang Emas
Indonesia Untuk Memperlambat Laju Pemanasan Global
Hanya ada satu bumi, tetapi ada dua
pilihan, membiarkan anak cucu kita kehabisan sumber daya, atau bergerak
menyelamatkannya dari sekarang! Memperlambat laju pemanasan global tidak akan mampu dilakukan secara
parsial, tetapi harus dilakukan secara spasial dengan langkah-langkah yang
seragam dan serentak dari seluruh penduduk di muka bumi. Dengan kata lain,
diperlukan kemitraan global yang
melibatkan penduduk di belahan bumi utara dan belahan bumi selatan untuk
memperlambat laju pemanasan global. Kemitraan tersebut dikuatkan secara hukum
dengan ditandatanginya kesepakatan-kesepakatan internasional untuk memperlambat
laju pemanasan global.
Salah satu kesepakatan internasional yang
menjadi peluang emas Indonesia untuk memperlambat laju pemanasan global adalah
kesepakatan pada pertemuan internasional salah satu badan PBB yaitu The
United Nations Climate Change Conference (UNCCC). Pertemuan yang diselenggarakan
di Bali (2007) itu dihadiri 189 negara dan 330 LSM dan menghasilkan kesepakatan
utama berupa Bali Roadmap.
Negara maju dan negara berkembang memiliki
keterwakilan di dalamnya, dan konferensi tersebut dianggap memiliki
keberhasilan yang ditunjukkan adanya kesanggupan negara-negara maju seperti Amerika,
Jepang, dan Kanada dalam pengurangan emisi gas sebesar 25-40%.
Bagi Indonesia, Bali Roadmap membuka
peluang emas untuk memperlambat laju pemanasan global karena tiga hal berikut:
- Pengurangan
Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (Reducing Emission from
Deforestation and Degradation/REDD)
REDD memberikan mekanisme yang adil antara
negara pemilik hutan tropis dengan negara maju. Negara pemilik hutan tropis bertanggungjawab
menjaga hutannya untuk menyerap emisi karbon dari negara maju sedangkan negara
maju memberikan bantuan dana kepada negara pemilik hutan tropis tersebut. REDD
memfokuskan pada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi
gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah
pengurangan emisi dari deforestasi.
- Transfer Teknologi
(Technology Transfer)
Negara maju akan memulai program strategis
untuk memfasilitasi teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negara
berkembang. Tujuan program ini adalah memberikan contoh proyek yang nyata,
menciptakan lingkungan investasi yang menarik, dan memberikan insentif kepada
sektor swasta untuk melakukan alih teknologi.
- Rencana
Adaptasi (Adaptation Plan)
Adanya dana adaptasi bagi negara
berkembang. Sebagai contoh, karena banyaknya
jumlah proyek Clean Development Mechanism (CDM), dana yang semula hanya 37
juta euro (+ 592 Milyar rupiah) bertambah menjadi US$ 80-300 juta pada periode 2008-2012.
Indonesia telah mendapat bantuan kerja sama dari
Inggris sebesar US$ 500.000 untuk mendukung program Indonesia Forest
Climate Alliance dan memberikan
komitmen US$ 10 juta untuk mendukung multistakeholder forestry program.
Apa Yang Harus Kita Lakukan?
Pemerintah
seharusnya segera memanfaatkan peluang emas tersebut dengan mengambil langkah
dan kebijkaan strategis. Contohnya, National Action Plan dijadikan hal
yang legal dan memiliki kekuatan hukum, sosialisasi langkah-langkah kongkret
untuk memperlambat laju pemanasan global berupa penetapan daerah-daerah
perlindungan, penggalakan program-program ramah lingkungan seperti konversi
gas, penghematan energi listrik, pengurangan pemakaian AC, serta pemberian tindak
lanjut dan dukungan Bali Roadmap agar diratifikasi pada tahun 2009 dalam
konferensi internasional PBB di Kopenhagen, Denmark.
Masyarakat pun seharusnya melakukan
kontrol sosial berkaitan dengan penebangan liar, pembukaan area hutan secara ilegal,
dan penyelundupan kayu. Selain itu,
masyarakat pun hendaknya memilih bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, misalnya
pada level rumah tangga memilih gas yang menghasilkan 15,3 ton C/TJ* daripada
minyak tanah yang menghasilkan 19,6 ton C/TJ* atau pun kayu bakar yang
menghasilkan 29,9 ton C/TJ*.
Pembelajaran Geografi dapat dijadikan
sebagai media yang cukup efektif untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat
tentang bagaimana kita menjaga dan menyelamatkan bumi ini. Geografi sebagai
ilmu keruangan dengan seluruh cabang ilmu yang dimilikinya baik Geografi Fisik,
Manusia, maupun Tehnik, mampu memberikan analisa yang tepat berikut solusi
untuk mengatasi permasalahan global, satu di antaranya mengenai cara untuk memperlambat
laju pemanasan global.
Jadi, berawal dari potensi alam dan
manusia Indonesia, didukung dengan adanya kesepakatan internasional berupa Bali
Roadmap dan kesadaran bersama dari seluruh manusia di muka bumi ini, marilah
kita melakukan tindakan nyata untuk memperlambat laju pemanasan global. Indonesia,
it’s time to take action!
*Carbon/Terra Joule
Essai ini telah dipresentasikan pada Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2009
oleh Putri Pamulani & Zakia Nurus Syifa'
Pembimbing: Peni Saptorini
Daftar Pustaka
-----------. 2007. Pemanasan Global,
(Online), (www.geo.ugm.ac.id, diakses Sabtu, 17 Januari 2009,
Pukul 14.30 WIB).
-----------. 2009. Hutan, (Online),
(www.wikipedia.org,
diakses Kamis, 15 Januari 2009, Pukul 15.00 WIB).
Liem. Hutan Indonesia Menjelang
Kepunahan, (Online), (www.walhi.or.id, diakses
Kamis, 15 Januari 2009, Pukul 15.00 WIB)
H., Marah Uli dan Asep Mulyadi. 2007. Geografi
untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis.
Udayanti, Atik, dkk.. 2003. Geografi
untuk SMA Kelas X . Bekasi: Galaxy Puspa Mega.
Regariana, Cut Meurah, Wangsa Jaya, dan
Yuli Katarina. 2006. Geografi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Phibeta
Aneka Gama.







0 komentar:
Posting Komentar