Home

Kamis, 12 Maret 2020

Menggugah Kesadaran Masyarakat Indonesia untuk Meminimalisasi Krisis Lingkungan pada Ekosistem Pesisir dan Laut


ABSTRAK

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai 81.000 km, dan berdaulat atas zona teritorial seluas 5.100.000 km2 serta Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas 2.700.000 km2. Hal tersebut membawa berbagai manfaat untuk kehidupan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali mereka yang tinggal di wilayah pesisir. Pesisir dan laut merupakan salah satu kawasan dengan potensi sumberdaya alam yang melimpah, misalnya beragam jenis ikan, kerang, mutiara, ladang minyak dan gas bumi, serta keindahan alam khas baik di pesisir maupun di bawah laut, dan semua itu dapat dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat setempat. Akan tetapi, dalam praktek pengelolaan sumberdaya alam khususnya ekosistem pesisir dan laut, tidak sedikit terjadi kasus pengrusakan misalnya penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan pukat harimau, pembuangan limbah ke laut, serta pengalihfungsian mangrove menjadi permukiman atau perindustrian. Perlahan tetapi pasti, apabila hal tersebut dibiarkan maka krisis lingkungan akan menjadi semakin parah dan berujung pada terganggunya kualitas kehidupan. Berbagai bencana yang melanda kawasan pesisir dan laut, secara tidak langsung mengingatkan kita untuk memperhatikan dan menyelamatkan ekosistem yang ada. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan yang menggugah kesadaran masyarakat untuk meminimalisasi krisis lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut, sebelum semuanya menjadi terlambat!  


Krisis Lingkungan Pada Ekosistem Pesisir dan Laut di Indonesia
            Berikut ini disajikan beberapa data yang menunjukkan terjadinya krisis lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut di Indonesia:
1.      Rusak dan Berkurangnya Areal Hutan Mangrove
Hutan mangrove di Indonesia mengalami kerusakan yang berakhir pada pengurangan areal hutan mangrove yang masih lestari. Sebagai contoh, di Pantura Jawa Barat kerusakan mencapai 12.000 Ha dari 14.000 Ha hutan yang dimiliki, di Jawa Tengah kerusakan mencapai 33.218 Ha dari 35.338 Ha, di Sumatera Barat kerusakan mencapai 21.907 Ha dari 39.832 Ha. Berikut ini disajikan tabel mengenai prosentase kerusakan areal hutan mangrove tersebut.

Tabel 1
Kerusakan dan Pengurangan Areal Hutan Mangrove

Nama Daerah
Areal Awal (Ha)
Kerusakan Areal
Luas (Ha)
%
Jawa Barat
14.000
12.000
86
Jawa Tengah
35.338
33.218
94
Sumatera Barat
39.832
21.907
55
Sumber: Hasil Pengolahan

Apabila data tersebut ditampilkan dalam bentuk diagram, maka akan terlihat dengan jelas bahwa hutan mangrove di Pulau Jawa dalam hal ini diambil contoh Jawa Barat dan Jawa Tengah, mengalami kerusakan pada areal yang jauh lebih luas dibandingkan dengan di luar Pulau Jawa dalam hal ini diambil contoh Sumatera Barat.

     
Data mengenai kerusakan hutan mangrove di daerah-daerah lain di Indonesia menunjukkan kondisi yang tidak terlalu jauh berbeda dengan sample di atas, yakni menunjukkan adanya kerusakan dan pengurangan areal hutan mangrove.
2.      Intensifnya Abrasi
Abrasi di Indonesia pada saat ini dinilai sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, karena lebih dari 30.000 Km pantai atau sekitar 40% dari 80.000 Km bibir pantai yang rusak akibat tingginya intensitas abrasi. Kondisi ini menyebabkan munculnya bencana yang lebih buruk misalnya datangnya gelombang besar yang akan merusak kawasan pesisir. Oleh karena itu, pemerintah berupaya melakukan pengamanan pantai, satu di antaranya dengan cara pembuatan pemecah gelombang.

Penyebab Krisis Lingkungan Pada Ekosistem Pesisir dan Laut
  1. Faktor Alam
Krisis lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut dapat dipicu oleh peristiwa alam berupa gempa bumi baik tektonik maupun vulkanik, tsunami, letusan gunung berapi baik yang ada di darat maupun yang ada di laut, dan sedimentasi berbagai material.
  1. Faktor Manusia
Krisis lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut dipercepat oleh berbagai aktivitas manusia antara lain: reklamasi pantai, konversi hutan mangrove menjadi areal permukiman dan perindustrian,  serta penggunaan bom dan bahan beracun seperti Cianida atau pun penggunaan pukat harimau dalam pengambilan kekayaan alam di laut.

Menggugah Kesadaran Masyarakat Indonesia Untuk Meminimalisasi Krisis Lingkungan Pada Ekosistem Pesisir dan Laut

            Krisis lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut perlu diminimalisasi, misalnya dengan menggugah kesadaran masyarakat melalui kegiatan berikut:
  1. Penanaman kembali mangrove dengan melibatkan masyarakat, mulai dari tahap pembibitan, penanaman dan pemeliharaan, sampai pada  tahap pemanfaatan. Hal ini akan memberikan keuntungan kepada masyarakat berupa terbukanya peluang kerja  dan peningkatan pendapatan.
  2. Penggunaan ruang yang memperhatikan peruntukannya sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat, sehingga kawasan konservasi tetap terjaga keberadaannya.
  3. Pemberian motivasi kepada masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan mangrove secara bertanggungjawab, serta peningkatan pengetahuan berikut penerapan kearifan lokal dalam hal konservasi
Peran Geografi Dalam Upaya Meminimalisasi Krisis Lingkungan Pada Ekosistem Pesisir dan Laut

            Geografi memiliki peluang untuk meminimalisasi krisis lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut, karena sangat terkait dengan objek materialnya berupa fenomena Geosfer, yang dipelajari secara lebih rinci menjadi Litosfer, Hidrosfer, Atmosfer, Biosfer, dan Antroposfer. Oleh karena itu, apabila seseorang belajar Geografi maka diharapkan orang itu akan mengelola alam dengan tepat, dalam hal ini mengelola ekosistem pesisir dan laut.

Essai ini telah dipresentasikan pada Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2009
oleh Fajar Pramono & Gurnito Dwidagdo, SMAN 1 Kebumen
Pembimbing: Peni Saptorini

Daftar Pustaka 

H., Marah Uli dan Asep Mulyadi. 2007. Geografi untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis.

Arobaya, A dan A. Wanma. 2006. Menelusuri Sisa Areal Hutan mangrove di Manokwari. Warta Konservasi Lahan Basah,14 (4): 4-5.

Onrizal. 2006. Hutan mangrove. Bagaimana Memanfaatkannya Secara Lestari? Warta Konservasi Lahan Basah, 14 (4): 6-8.

Munisa, A. A. H. Oli, A. K. Palaloong, Erniwati, Golar, G. D. Dirawan, M. S. Hamidua dan R. G. P. Panjaitan. 2003. Partisipasi masyarakat mangrove di Sulawesi Selatan. http://tumoutou,net/702_07134/71034_13.htm.
Kompas. 2000. Separuh Hutan Bakau Sumatera Barat Rusak. 28 Februari 2000.
Gosalam, S., N. Juli dan Taufikurahman. 2000. Isolasi Bakteri dari Ekosistem Mangrove yang Mampu Mendegradasi Residu Minyak Bumi. D113-122. Prosiding Konperensi Nasional II Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia. Makasar.

Harianto, S. P. 1999. Konservasi mangrove dan potensi pencemaran Teluk Lampung. Jurnal Manajemen & Kualitas Lingkungan, 1 (1): 9-15.





0 komentar:

Posting Komentar