Home

Kamis, 12 Maret 2020

Kebelanjutan Renewable Resources sebagai Pendukung Keberlanjutan Industri, Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat, dan Kelestarian Lingkungan

Studi Kasus pada Industri Ukir di Jepara Jawa Tengah

ABSTRAK
Kayu jati dan beragam jenis komoditas penting dari hutan, termasuk sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable resources). Namun demikian, apabila dalam pengelolaannya tidak memperhatikan aspek keberlanjutan, bukan hal yang tidak mungkin di suatu hari nanti sumberdaya alam tersebut menghilang dari permukaan bumi. Selain bencana alam, faktor yang mempercepat hilangnya renewable resources adalah aktivitas manusia yang kurang memperhatikan aspek lingkungan, efisisensi, dan keberlanjutan (sustainable development).


Jepara sebagai ”Kota Ukir” menjadi menarik untuk dikaji khususnya dalam hal keberadaan dan keberlangsungan jati sebagai bahan baku industri ukir di sana. Secara astronomis, kabupaten ini terletak pada 110o9’48”-110o58’37”BT dan 5o43’20”-6o47’25”LS, sedangkan secara geografis berbatasan dengan: Laut Jawa di sebelah barat dan utara, Kabupaten Pati dan Kudus di sebelah timur, serta Kabupaten Demak di sebelah selatan. Dengan topografi 0-1.301 mdpl,  kabupaten ini memiliki kawasan yang potensial untuk budidaya maupun pengolahan jati. Hal ini dibuktikan dengan muncul dan berkembangnya seni ukir yang berbahan baku jati, pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (sekitar abad XVI).
 Produk ukir Jepara mampu menembus pasar internasional, sehingga berdampak cukup luas antara lain kepada para pengrajin, pengusaha, masyarakat dan pemerintah daerah setempat, bahkan Indonesia. Berdasarkan data mengenai Industri Kecil dan Menengah (IKM) pada tahun 2008, tercatat 3.821 unit usaha furniture kayu yang ada di Jepara. Usaha ini menempati peringkat pertama dan mampu menyerap tenaga kerja sejumlah 50.668 jiwa.

Tabel 1
Ekspor Produk Ukir Jepara Tahun 2006-2008


2006
2007
2008
Eksportir
595
281
315
Negara tujuan
199
183
210
Volume ekspor (kg)
62.224.078,09
144.015.016,39
42.286.091,96
Nilai ekspor (US $)
119.097.669,9
104.146.899,71
109.886.544,23
Sumber: Jepara Dalam Angka 2008

Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa penurunan jumlah eksportir tidak terlalu berpengaruh pada negara tujuan, volume ekspor, dan nilai ekspor produk ukir Jepara. Hal ini menjadi suatu pertanda yang cukup bagus, bahwa produk ukir Jepara masih memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan di masa-masa mendatang. Namun, apakah kayu jati di Jepara masih mencukupi untuk keberlangsungan industri di sana?
Kayu jati sebagai bahan baku industri ukir Jepara, merupakan salah satu faktor penentu kualitas sehingga produk ukir tersebut mampu menembus pasar internasional. Pasang surut industri ukir di Jepara tetap membawa suatu ancaman berupa penurunan ketersediaan kayu jati di Jepara. Laju penurunan ini dipercepat oleh peningkatan permintaan dari luar negeri, sehingga para pengrajin dan pengusaha ukir meningkatkan produksi secara besar-besaran. Hal tersebut membawa dampak pada penebangan kayu jati secara lebih intensif, sehingga permintaan pasar dapat terpenuhi.

Aktivitas penebangan hutan menunjukkan adanya peningkatan selama tahun 2006-2008. Upaya reboisasi untuk menjaga keseimbangan fungsi hutan tersebut, berjalan dengan baik pada kurun 2006-2007. Namun, pada tahun 2008 terjadi ketidakseimbangan antara jumlah penebangan dengan reboisasi yang dilakukan. Hal ini merupakan ancaman terhadap keberlanjutan fungsi hutan tersebut, salah satunya sebagai pendukung keberlanjutan industri ukir Jepara.



            Beberapa upaya yang telah dan dapat dilaksanakan untuk mewujudkan keberlanjutan renewable resources sebagai pendukung keberlanjutan industri, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan kelestarian lingkungan khususnya pada industri ukir di Jepara antara lain:
  1. Penerapan sistem Tebang Pilih Tanam Kembali (TPTK) yang didasari adanya kesadaran dan tanggung jawab pihak-pihak terkait.
  2. Penggunaan bahan baku alternatif dalam industri ukir, seperti kayu mahoni dan sonokeling (permasalahan yang kemudian muncul adalah turunnya harga jual produk karena kualitasnya di bawah kayu jati).
  3. Meminimalisasi tindakan penebangan liar, dengan penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat serta pengawasan dari dinas setempat.
  4. Mendidik generasi muda-khususnya melalui pembelajaran Geografi-agar memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Geografi memiliki peranan strategis dalam konstelasi pelaksanaan pengelolaan sumberdaya alam dan kelestarian lingkungan. Mengapa? Melalui kajian objek material (geosfer) dan objek formal (pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan), Geografi mampu memberikan pemahaman dan menumbuhkan kesadaran mengenai pengelolaan sumberdaya alam yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Contohnya, dalam pembelajaran Geografi di SMA khususnya kelas XI IPS, terdapat materi tentang sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan. Jika generasi muda-yang saat ini tengah duduk di bangku SMA-telah memiliki pemahaman dan kesadaran untuk mengelola sumberdaya alam secara arif, maka keberlanjutan sumberdaya alam dan kelestarian lingkungan akan menjadi suatu kenyataan.

 Essai ini telah diajukan pada Olimpiade Geografi Nasional di UGM Tahun 2010
oleh Hasan Fikri & Juni Nur Malinda, SMAN 1 Mayong Jepara
Pembimbing: Peni Saptorini
  
  
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, T., dkk. (2004). Fakta dan Konsep Geografi Untuk Kelas 2 SMA. Bandung: Ganeca Exact

Harahap, M. U., dan Mulyadi, A. (2005). Geografi Untuk Kelas XI. Jakarta: Esis

Haryanto, T., dan Wahyudi, N. (2006). Geografi Kelas XI Program Ilmu Sosial. Klaten: Cempaka Putih

Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara. (2008). Jepara Dalam Angka 2007.

Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Jepara. (2009). Sistem Informasi Profil Daerah Kabupaten Jepara 2008.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara, (2009). Jepara Dalam Angka 2008.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jepara.















0 komentar:

Posting Komentar