Ketika
kulihat lagi wajahmu
Pendar-pendar
di hati seketika menyeruak
Mendesak,
menyesakkan dada ini
Sungguh,
masih seperti dulu
Tiap
kali kutatap mata teduhmu
Hati
ini tak mampu berkata lain
Aku
sayang padamu
Namun,
perjalanan waktu
Tak
pernah biarkan ‘tuk kita bersama
Meski
aku tahu, di sudut-sudut hati kita
Di
dalam pendar-pendar jiwa kita
Selalu
ada harap, bilakah masa menyatukan kita?
Gurat-gurat
di wajahmu
Masih
lekat seperti yang dulu
Selalu
kukagumi dan kukasihi
Kar’na
engkau, mentari di hatiku
Delapan
tahun tlah berlalu
Sejak
terakhir kali kau hilang dari pandanganku
Oh,
bukan!
Akulah
yang memilih ‘tuk menghilang
Menjauh
dan meninggalkanmu
Bersama
sekian asa yang belum terwujud
Meski
dari jauh, aku selalu mengingatmu
Meski
hanya cukup kalbuku yang mengenangmu
Namun
kau harus tahu, aku selalu mendoakanmu
Meski
ku tak tahu, apakah kau masih mengenangku
Memandangmu
hari ini
Membuat
kenangan lama itu kembali berputar
Mencabik-cabik
segala rasa yang kuat-kuat aku kubur
Kar’na
saat ini, di antara kita t’lah ada belahan jiwa
Terikat
janji suci dan itulah rahasia-Nya
Kenapa
tak pernah ada keberanian di antara kita
‘tuk
seia sekata, jalani hidup apa adanya
Menatapmu,
Membuatku
teringat saat-saat indah itu
Bersama
teman-teman di bumi siliwangi
Hadapi
semua aral dan lika-liku
Aku
tahu, kamu selalu ada untukku
Meski
dalam perasaanku padamu
Kutahu
sekarang jalan kita berbeda
Kau
di sana telah berpunya
Pun
aku di sini, telah memilih bahagia
Ah,
entahlah, kenapa ruang hati ini berbicara
Ketika
kulihat wajah teduhmu di sana
Meski
jelas kulihat kau telah bahagia
Dengan
seorang wanita cantik di sana
Cantik
wajahnya, cantik hatinya
Betapa
sempurna pilihanmu
Duhai
sahabatku
Meski
kau tak tahu
Tapi
ku yakin hatimu pun merasa hal yang sama
Kar’na
ada ikatan di antara kita
Meski
sekedar persahabatan
**
Jepara, medio September
2014







0 komentar:
Posting Komentar