Home

Minggu, 15 Maret 2020

Seorang Sahabat




Ketika kulihat lagi wajahmu
Pendar-pendar di hati seketika menyeruak
Mendesak, menyesakkan dada ini

Sungguh, masih seperti dulu
Tiap kali kutatap mata teduhmu
Hati ini tak mampu berkata lain
Aku sayang padamu

Namun, perjalanan waktu
Tak pernah biarkan ‘tuk kita bersama
Meski aku tahu, di sudut-sudut hati kita
Di dalam pendar-pendar jiwa kita
Selalu ada harap, bilakah masa menyatukan kita?

Gurat-gurat di wajahmu
Masih lekat seperti yang dulu
Selalu kukagumi dan kukasihi
Kar’na engkau, mentari di hatiku

Delapan tahun tlah berlalu
Sejak terakhir kali kau hilang dari pandanganku
Oh, bukan!
Akulah yang memilih ‘tuk menghilang
Menjauh dan meninggalkanmu
Bersama sekian asa yang belum terwujud
  
Meski dari jauh, aku selalu mengingatmu
Meski hanya cukup kalbuku yang mengenangmu
Namun kau harus tahu, aku selalu mendoakanmu
Meski ku tak tahu, apakah kau masih mengenangku

Memandangmu hari ini
Membuat kenangan lama itu kembali berputar
Mencabik-cabik segala rasa yang kuat-kuat aku kubur
Kar’na saat ini, di antara kita t’lah ada belahan jiwa
Terikat janji suci dan itulah rahasia-Nya
Kenapa tak pernah ada keberanian di antara kita
‘tuk seia sekata, jalani hidup apa adanya

Menatapmu,
Membuatku teringat saat-saat indah itu
Bersama teman-teman di bumi siliwangi
Hadapi semua aral dan lika-liku
Aku tahu, kamu selalu ada untukku

Meski dalam perasaanku padamu
Kutahu sekarang jalan kita berbeda
Kau di sana telah berpunya
Pun aku di sini, telah memilih bahagia
Ah, entahlah, kenapa ruang hati ini berbicara
Ketika kulihat wajah teduhmu di sana
Meski jelas kulihat kau telah bahagia
Dengan seorang wanita cantik di sana
Cantik wajahnya, cantik hatinya
Betapa sempurna pilihanmu
Duhai sahabatku

Meski kau tak tahu
Tapi ku yakin hatimu pun merasa hal yang sama
Kar’na ada ikatan di antara kita
Meski sekedar persahabatan
**
Jepara, medio September 2014

0 komentar:

Posting Komentar